Pathol “Sumo ala Sarang Rembang”

"SUMO" SARANG

Jika di Negeri Jepang kita mengenal  jenis olah raga bela diri yang bernama “sumo”. Olah raga yang hampir sama dengan olah raga gulat ini, bedanya cuma pemainnya bertubuh tambun hampir dua kwintal. Maka di Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang ada jenis permainan yang menyerupai Sumo ini namun bedanya hanya pemainnya atau pesumo-pesumonya dilakukan oleh kaum nelayan dengan tempat pertandingan hanya memakai hamparan pasir laut yang dibatasi dengan karung-karung dipakai sebagai pembatas arena.

Konon permainan pathol sarang ini berkembang sejak jaman Kerajaan Majapahit. Ketika itu pantai Tuban menjadi pusat perdagangan yang paling ramai. Banyak kapal-kapal besar singgah di pelabuhan Tuban. Untuk menjaga keamanan pantai Tuban dari perompak atau bajak laut memerlukan seorang ksatria yang tangguh atau memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. Tersebutlah seorang pangeran bernama Sri sawardana,yang diberi kepercayaan untuk mencari pendekar yang mampu menjaga wilayah teritoral pantai tuban. Pangeran Sawardana yang masih keturunan Bre Lasem tersebut lalu menggelar sayembara untuk memilih para ksatria yang cakap berkelahi.. Maka digelarlah sebuah pertandingan gulat atau “pathol” sehingga ketika muncul seorang ksatria “pathol” yang tak terkalahkan.

Akhirnya jurus-jurus atau gerakan pathol tadi ditiru dan dikembangkan oleh para pemuda dan masyarakat setempat dan menjadi permainan atau olahraga yang digemari masyarakat Tuban dan sekitarnya hingga ke Sarang. Di Sarang jenis olahraga yang satu ini lebih cepat berkembang, karena oleh masyarakat waktu itu dijadikan kesenian traditional. Setiap menjelang purnama atau pada hari-hari tertentu, atau bertepatan dengan upacara Sedekah laut, mereka menyelenggarakan lomba pathol yang diikuti kaum muda maupun orang tua. Dengan berkembangnya waktu akhirnya olahraga pathol menjadi popular di Sarang, Bahkan olah raga pathol ini akhirnya menjadi “trade mark” masyarakat sarang dan namanya menyatu menjadi pathol Sarang.

Iklan

Komentar ditutup.