Seni Akar Desa Bulu Tembus Pasaran Internasional

Keberadaan akar pohon kini tak lagi dipandang sebelah mata. Berawal dari hobi, Supriyanto mampu merubah akar pohon menjadi karya seni dan memperoleh penghasilan yang memuaskan. “awalnya saya melihat akar pohon jati dijual Rp 20.000 hanya untuk dibuat kayu bakar,” kata supriyanto yang akrab dipanggil pry. Kemudian oleh Pry akar pohon tersebut diolah menjadi meja dan kursi yang bernilai seni.
Tak berapa lama seorang turis dari Bali yang sedang berkunjung ke Rembang memotret hasil karyanya.”mungkin dia tertarik dengan keunikan buatan saya,” ujar pry. Sejak saat itulah pria yang memulai usahanya sejak tahun 1999 membuat akar pohon yang tadinya hanya sebagai kayu bakar menjadi barang berkualitas tinggi.
Dalam pemprosesan akar pohon menjadi barang seni pry hanya mengandalkan keunikan dari akar pohon tersebut tanpa mengukir akar pohon tersebut. ”Kami hanya memotong dan memolesnya saja,” ujar Pry. Berdasarkan pengalaman semakin banyak lobang pada karya seni tersebut semakin mahal harga jualnya.
Menurut Pry pembeli hasil seni akarnya berasal dari berbagai daerah dan negara. “Biasanya pembeli langsung kerumah saya di daerah bulu, pembelinya ada yang dari Belanda, Perancis, Amerika, Korea, Malaysia,” Kata pria yang pernah merantau ke Kalimantan itu.
Harga yang ditawarkan oleh pry pun beragam mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 6.5 Juta per produk tergantung dari tingkat kesulitan dan keunikan barang tersebut. “Biasanya pembeli dari eropa suka yang sederhana, tapi kalau pembeli dari asia suka yang rumit-rumit terutama korea dan malaysia,” jelas pry. Omzet perbulannya menurut Pry lebih dari Rp 10 Juta. “Untuk gaji karyawan, air dan listrik saya harus mengeluarkan minimal 5 juta perbulan,” jelas pry
Sampai saat ini Pry menggunakan bahan baku seperti akar pohon jati, mahoni dan sono keling. Biasanya bahan baku dipasok dari para pencari akar dibeli dengan kisaran harga Rp 150 ribu sampai Rp 1 Juta. ”Kadang pengrajin dari Jepara mengambil bahan baku dari sini karena disana sudah susah untuk mencari bahan baku yang berkualitas,” terang pria yang memulai usahanya dengan beternak kambing.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar Pry dibantu oleh 12 orang karyawan. Selain itu dia juga mempunyai pekerja yang bertugas mencari akar pohon ”Kalau dihitung dengan pencari akar pegawai saya mencapai puluhan orang,” ujar Pry. Menurutnya pasar untuk seni akar hasil produknya sangat bagus sampai-sampai dia sendiri mengaku kualahan menerima order.

Iklan

Komentar ditutup.