Tepat Waktu Dalam Produksi

Sasana Antik Arifin

Meskipun tergolong muda, Arifin (31) warga desa Krikilan, Kecamatan Sumber sudah dapat meraih kesuksesan. Melalui perusahaan mebel “sasana antik” yang dipimpinnya mampu menghasilkan omzet miliaran rupiah tiap bulannya dan keberadaan perusahaannya mampu menggerakkan perekonomian lokal di desanya.

Pada awalnya tahun 2003 Arifin yang sarjana ekonomi itu hanya memiliki usaha jual beli kayu bekas yang beromzet puluhan juta saja. Tak lama kemudian tawaran untuk mencoba bisnis mebel pun datang dari teman kuliahnya di jogjakarta. Hasilnya, karena tidak melalui proses yang benar satu kontainer mebel yang dikirimnya pecah semua.

Namun Arifin tidak patah semangat, dibawah bimbingan buyer (pembeli) dari Belanda, Arifin mampu memproduksi mebel dengan baik serta melalui proses yang benar selain itu mampu mengembangkan produk-produknya hingga mampu menembus pasaran Eropa seperti Belanda, Belgia, Perancis, Jerman, Austria dan Finlandia.

Bapak dua anak ini mengaku awalnya hanya mempekerjakan tiga orang karyawan saja namun kini karyawannya berjumlah lebih dari 200 orang yang mana 90% merupakan penduduk lokal. “Tidak ada remaja nganggur di desa krikilan dan untuk karyawan perempuan jumlahnya lebih dari 30 orang,” kata Arifin.

Selain itu Arifin juga mengandeng pengusaha lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku maupun bahan jadi. Namun demikian untuk menjaga kwalitas, finishing tetap dilakukan digudangnya (pabrik).

Untuk bahan baku, Arifin mengaku 80% produknya menggunakan kayu bekas dan kayu-kayu bekas tersebut didapat dari pengepul baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Jawa barat. “Orang-orang Eropa lebih menyukai menggunakan kayu bekas daripada kayu yang baru dipotong,” jelas Arifin.

Resep kesuksesan usahanya menurut Arifin adalah tepat waktu dalam produksi selain tentu saja kwalitas produksi yang terjaga. Untuk mempertahankan bisnisnya Arifin selalu mengikuti selera pasar baik itu model maupun bahan. “Sekarang ini yang lagi trend adalah mix (campuran) antara penggunaan logam dan kayu,” ujar Arifin.

Arifin juga mengembang usahanya, tidak hanya mebel, pembuatan parket (lantai kayu), pintu, kaligrafi, handicraft dan keramik juga mulai diproduksi diperusahaannya meskipun masih dalam kapasitas kecil.

Untuk pemasaran Arifin tidak menemui kesulitan karena sudah memiliki kontrak tahunan dengan pengusaha dari Eropa sehingga waktu terjadi krisis tahun 2010 dampaknya tidak terlalu terasa. Selain Eropa Produk-produk Arifin juga sudah mulai masuk Asia Timur meskipun sempat terhenti adanya gempa tsunami di Jepang beberapa waktu yang lalu. “Untuk pasar Amerika baru tahap penjajakan, bulan September besok kami mengikuti pameran di Dubai,” kata Arifin.

Menurut Arifin buyer sering datang langsung ke gudangnya untuk melihat proses produksi produknya. “Pembeli lebih suka kesini karena suasananya yang khas pedesaan karena letak pabriknya sendiri masih dilingkungan pedesaan, sedangkan perusahaan lain biasanya berada di lingkungan industri,” jelas Arifin.

Iklan

Komentar ditutup.