Masripah, Budidayakan Tembakau Srumpung Marem

Petani Tembakau
Tembakau

Di era modern sekarang ini dimana persamaan gender terus didengungkan, di Desa sumber mulyo (ngedog) kecamatan Bulu Kabupaten Rembang terdapat seorang wanita yang menekuni perkerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum pria dia adalah Masripah.

Pekerjaan yang sekarang ini sedang digeluti oleh Masripah adalah petani tembakau. Pada awalnya Masripah yang juga merupakan kaur pemerintahan di desanya sempat ragu untuk menanam tembakau jenis srumpung “marem” (Tembakau Madura-Rembang) mengingat modal awal yang dibutuhkan untuk menanam tembakau sangat besar. “Untuk satu hektar lahan tembakau dibutuhkan modal sekitar Rp 18 juta – Rp 20 juta,” kata Masripah.

Masripah menuturkan berkat bimbingan teknis dari tenaga ahli salah satu perusahaan tembakau di Jawa timur dan jaminan pembelian hasil panen tembakau, dia berani untuk mencoba bertani tembakau yang merupakan kategori pertanian baru di Kabupaten Rembang. “Kalau bermitra dengan mereka kita mendapat kemudahan dalam memperoleh bibit, pupuk, genbo, pupuk, obat, plastik dan lain-lain,” ujar ibu dua anak ini.

Masripah mengungkapkan masa bertanam tembakau cukup pendek, untuk pembibitan hanya membutuhkan waktu 1,5 bulan dan usia 2.5 bulan tembakau bisa dipetik. Satu batang tembakau bisa dipanen 5-7 kali petik dengan total hasil panen untuk satu hektar mencapai 2 ton. ”Jika harga satu kilogram tembakau rata-rata Rp 30 ribu – Rp 47 ribu untuk kualitas P2 maka satu hektar petani bisa mendapat uang kotor Rp 65 juta – 70 Juta,” ungkap Masripah yang mengaku dalam dua kali petik modal yang dikeluarkannya sudah kembali.

Masripah mengaku tidak kesulitan dalam menjual hasil panennya bahkan beberapa kali dia didatangi pengepul tembakau dari daerah temanggung untuk menjual hasil panennya namun berhubung sudah menjalin komitmen dengan perusahaan lain dia tidak berani melepas tembakau tersebut meskipun harga yang ditawarkan lebih tinggi. “Di Temanggung serangan hama ulat sangat banyak sedang di Rembang masih minim.” tutur masripah.

Namun demikian Masripah tetap mengalami hambatan yakni ketika akan merajang tembakaunya. Dia menjelaskan alat perajang tembakau harganya cukup mahal dan sekarang disiasati dengan meminjam alat perajang dari pihak lain dengan sewa Rp 1500/kg. Menurutnya uang sewa itu dipergunakan untuk merawat alat perajang tersebut semisal untuk membeli pisau.

Masripah mengatakan di desanya sekarang ini ada delapan petani tembakau denga rata-rata tiap petani memiliki 0.5 hektar lahan tembakau. ”tahun depan jumlah petani tembakau semakin banyak mengingat hasilnya sangat menguntungkan,” pungkas Masripah.

Iklan

Komentar ditutup.