Penjamasan Bende Becak, Ritual Kebudayaan Masyarakat Bonang

Bende becak

Bende becak

Penjamasan bende becak adalah sebuah ritual kebudayaan yang tiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bonang Kecamatan Lasem tepatnya setiap tanggal 10 Dzulhijjah kalender Islam. Menurut Abdul Rohim, seorang juru kunci petilasan sunan Bonang mengatakan konon bende becak merupakan perwujudan dari seorang utusan dari kerajaan majapahit.

Pada awalnya Sunan Bonang yang telah berhasil mendirikan pondok pesantren di desa kemuning yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Desa Bonang mengirim surat kepada raja majapahit yaitu Raja Brawijaya untuk memeluk agama Islam. Kemudian Raja Brawijaya mengutus utusannya yang bernama Becak untuk memberikan jawaban penolakan terhadap surat tersebut. Setiba di pintu pesantren Sunan Bonang bersama murid-muridnya sedang mengaji. Sambil menunggu Becak rengen-rengeng (bernyanyi-nyanyi kecil).

Merasa terganggu Sunan Bonang bertanya kepada muridnya suara apakah itu? Para murid menjawab itu suara orang bernyanyi tapi Sunan Bonang berkata itu bukan suara orang tapi suara Bende (Gong yang berukuran kecil). Seketika Becak berubah menjadi sebuah bende.

Meskipun kurang dalam hal promosi namun setiap penjamasan bende becak selalu di hadiri oleh ratusan orang. Mereka mempercayai mendapatkan berkah dari air, ketan, tusuk sate dan kain mori yang dipergunakan untuk memandikan bende becak. Hakim salah satu pengunjung dari Jakarta mengatakan ia bersama adiknya membawa botol air kemasan untuk mendapatkan air sisa penjamasan dengan maksud semoga mendapat berkah.

KH Dimyati salah sorang ulama yang menghadiri acara tersebut berulangkali meminta kepada masyarakat agar tidak terjebak kedalam kemusyrikan. Beliau mengatakan air, ketan, tusuk sate dan kain mori hanyalah sebagai wasilah (perantara) sedangkan untuk meminta tetap hanya kepada Allah SWT.

Sementara itu wakil Bupati Rembang H. Abdul Hafidz mengatakan penjamasan bende becak merupakan tradisi tahunan untuk melestarikan budaya. “Tradisi penjamasan ini untuk mengingatkan kita pada perjalanan Waliyullah Sunan Bonang dalam usaha menyebarkan syiar agama Islam ditanah jawa ini,” ujar Wabup.

Wabup berharap agar masyarakat dapat meneladani perilaku dan perjuangan Sunan Bonang karena dalam era globalisasi ini masyarakat dihadapkan kepada kemajuan teknologi dan kebebasan tak terkecuali pengaruh negatifnya.

Iklan

Komentar ditutup.