Lubang Candu di Lawang Ombo

soebagio (paling kiri) bersama Gubernur Ganjar Pranowo melihat Lubang Candu

soebagio (paling kiri) bersama Gubernur Ganjar Pranowo melihat Lubang Candu

Menyusuri Kota Lasem tidak hanya disuguhi oleh kemajuan jaman modern tapi juga banyak tempat yang menggambarkan sisa-sisa kejayaan perdagangan Lasem masa lampau. Salah satunya adalah “Lawang Ombo.” Mengunjungi “Lawang Ombo” seakan kita diajak menembus dimensi waktu yang sangat berbeda dengan sekarang baik dari bentuk fisik bangunan maupun sistem keluar masuk barang perdagangan.

Lawang Ombo adalah komplek bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6000 meter persegi. Bangunan tersebut di kelilingi oleh pagar setinggi satu setengah meter. Pintu gerbang untuk memasuki kawasan tersebut menurut pemilik Lawang Ombo, Soebagio (52), dahulunya terbuat dari kayu, dengan ukuran yang lumayan besar. Dari ukuran tersebutlah nama Lawang Ombo yang dalam bahasa Jawa berarti pintu besar itu lahir. Kini pintu tersebut telah diganti dengan pintu besi dengan ukuran yang lebih kecil.

Pintu utama untuk memasuki bangunan itu berukurang lumayan besar, yakni dengan tinggi sekitar 4 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Pintu berwarna krem tersebut terbuat dari kayu yang cukup tebal, dengan balok kayu sebagai bingkainya. Di sebelah kiri dan kanan pintu itu terdapat jendela yang ukurannya juga lumayan besar, yakin dengan tinggi sekitar 2 meter dengan lebar sekitar 1 meter, dengan tralis kayu sebagai penutupnya. Di pojok timur bagian muka bangunan itu juga terdapat pintu. Di ruangan yang terletak di balik pintu itu lah terdapat lubang Candu itu.

Soebagio mengatakan lubang itu konon digunakan untuk menyeludupkan Candu (Papaver Somniverum). Soebagio menyebutkan dari cerita ibunya, lubang tersebut konon digunakan untuk menyeludupkan candu. Di dasar lubang itu dulunya terdapat lorong besar yang bisa dimuati perahu, dan lorong tersebut tersambung dengan sungai Babagan, yang mengalir di arah barat kompel tersebut, dengan jarak sekitar 20 meter. Kini lorong perahu itu sudah dipenuhi dengan lumpur.

“Tidak cuma lubang saja, jaman dulu peti mati juga digunakan untuk menyeludupkan candu. Jadi peti mati itu bukan diisi orang mati, tapi diisi candu. Peti itu di kawal seluruh keluarga sambil menangis biar polisi tidak curiga,” katanya.

Bangunan tersebut kata dia awalnya di bangun oleh seorang Kapiten Cina bermarga Liem. Ia menduga dirinya adalah keturunan ketujuh dari Kapiten yang juga dikubur di komplek tersebut. Sejak awal bangunan tersebut didirikan, kecuali pintu masuk kawasan tersebut dan bangunan yang dihancurkan tentara Jepang hampir tidak ada yang dirubah.

Bangunan itu sempat diminta oleh Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah diubah sebagai tempat penginapan untuk turis.

Ia menolak dengan halus usul tersebut karena khawatir akan menimbulkan polemik. Di tempat itu kini kerap digelar acara budaya. Soebagio mengaku akan mengizinkan siapapun yang meminjam tempat tersebut tanpa memungut bayaran.

Iklan

Komentar ditutup.