Petani Sulang Setia Produksi Gula Siwalan

 LEGENDITENGAH membanjirnya produk gula tebu impor, petani di Kecamatan Sulang tetap setiap memproduksi gula siwalan. Gula siwalan diolah dari air legen pohon bogor atau siwalan. Saat puncak musim kemarau, produksi legen meningkat drastis.

Selain langsung dijual di warung yang berada di pinggir jalan, warga mengolahnya menjadi gula siwalan. Menurut Yasman (68), petani di Desa Bogorame, Kecamatan Sulang, masih ada ratusan warga yang setia memproduksi gula siwalan. “Saat puncak panen legen, dalam sehari rata-rata mampu memproduksi gula siwalan sedikitnya 10 kg,” katanya (6/9).

Selain dibuat gula siwalan, legen biasanya dijual langsung di warung-warung di pinggir jalan. Harga legen mencapai Rp 5 ribu/botol isi 1,5 liter. Jika sudah diolah menjadi gula harganya mampu mencapai Rp 15 ribu/kg.

Yasman mengatakan harga gula siwalan sempat anjlok pada awal September. Bulan lalu harga gula masih di kisaran Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram. Turunnya harga gula siwalan diperkirakan akibat semakin banyaknya produksi gula siwalan petani di Kecamatan Sulang.

Mulai masuknya puncak musim panen tebu juga berdampak pada turunnya harga gula siwalan. “Banyak petani yang mengolah tebu menjadi gula tumbu. Gula siwalan juga harus bersaing dengan gula kelapa yang banyak di jual di pasaran,” katanya.

Meski banyak menghadapi tantangan, petani setempat tetap menekuni usaha itu. Sebab usaha produksi gula siwalan menjadi andalan untuk menghidupi keluarga di tengah paceklik musim kemarau. “Lahan sawah tidak bisa ditanami. Paling banter hanya untuk menanam tebu,” ujarnya.

Gula siwalan produksi petani di Kecamatan Sulang dipasarkan di pasar lokal di Rembang dan sebagian kabupaten tetangga seperti Blora dan Pati. Setiap hari ada pedagang yang membeli gula siwalan langsung ke rumah-rumah produsen.

Yasman mengatakan, produksi gula siwalan di Desa Bogorame masih sangat tradisional. Untuk bahan bakar warga masih bergantung dari pasokan kayu bakar yang harganya terus naik. “Warga tetap memproduksi gula siwalan karena tidak ada pilihan pekerjaan lain. Apalagi selama kemarau sawah tak bisa diolah untuk menanam tanaman pangan,” katanya.

Rajiman, petani bogor di Desa Kebunagung, Kecamatan Sulang menambahkan, produksi legen pada puncak musim kemarau sedikitnya mencapai 45 liter hingga 50 liter. Ia yang memiliki sekitar 15 batang pohon siwalan memperkirakan puncak produksi legen dan siwalan masih akan berlangsung hingga akhir September. 

Iklan

Komentar ditutup.