Monthly Archives: Oktober 2014

Buruh Batik Jadi Pengusaha Batik

Bu win (oranye) sedang memilih batik untuk dikerjakan karyawannya di rumah masing-masing

Bu win (oranye) sedang memilih batik untuk dikerjakan karyawannya di rumah masing-masing

Kerja keras, keuletan dan diiringi doa akan membuahkan hasil, seperti yang dialami oleh salah satu pengusaha batik yang tinggal di desa Babagan Lasem. Sri Winarti (39) berhasil membuktikan dari buruh batik ia berhasil menjadi pengusaha batik.

Sejak tahun 1993, Ia bersama saudara dan orang tuanya bekerja sebagai buruh batik di pengusaha batik tulis Lasem ”kuda” atau sekarang lebih dikenal sebagai batik “Purnomo”..

Dari situlah kemampuan membatik diperolehnya, kemudian pada tahun 2010 melalui program PNPM desa Babagan ia memperoleh pengetahuan pengetelan (mencuci kain) dari almarhumah Naomi pemilik batik maranantha yang kemudian diteruskan oleh Rifai pemilik batik “Ningrat”.

Di tahun yang sama istri dari Kunardi itu bersama rekan-rekannya memperoleh pelatihan pewarnaan di Pekalongan dimana seluruh biaya pelatihan ditanggung oleh Pemkab Rembang.

Setelah merasa pengetahuan tentang membatik komplit ia mencoba memberanikan diri membuat batik sendiri.

“Saya masih ingat awalnya 13 potong kain batik, setelah laku terjual saya belikan 20 potong kain,” kenangnya

Pada akhir tahun 2010, semula ia hanya ingin melihat pasar pameran batik di jakarta. Dengan modal Rp 3 juta untuk sewa stan dan Rp 1 juta untuk transportasi, ia membawa 50 potong kain batik ditambah beberapa potong batik hasil titipan dari teman-temannya.

Ternyata respon diperoleh sangat bagus, dagangan ludes dan ia pulang membawa uang Rp 40 juta. Sejak saat itu ibu dari dua orang anak itu rajin mengikuti berbagai pameran di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta dan Semarang.

Pada pameran inacraf tahun ini ia memperoleh kesempatan bersalaman dan berdialog dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta ibu Ani.

Selain pameran ia juga menerima pesanan dari beberapa wilayah di Indonesia, bahkan dari sebuah bank milik pemerintah ia mendapat pesanan batik dari luar negeri seperti Belanda, Kanada dan Singapura.

Batik termahal yang pernah ia jual juga dibeli oleh pembeli dari luar negeri yakni pembeli dari Thailand dan Tiongkok seharga Rp 4 juta/lembar yaitu batik tiga negeri motif sekar jagad.

Kini hanya dalam tempo 4 tahun ia telah berkembang, karyawan yang membantunya di batik tulis Lasem ”sumber rejeki” dirumahnya yang terletak di desa Babagan Kecamatan Lasem ada 30 orang, upah mereka rata-rata perhari Rp 20 ribu-30 ribu, belum termasuk karyawan borong yang membatik dirumah masing-masing.

Selain memperkerjakan orang ia juga mengajak tetangga sekitarnya untuk ikut membatik dan menerima titipan hasil batik mereka untuk ia pasarkan. Bersama rekan-rekannya itu ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Babagan.

Dalam satu bulan jumlah kain batik yang ia produksi mencapai 1000 potong kain batik siap jual.

“Dalam satu bulan penjualan batik milik KUB bervariasi antara Rp 20 juta-50 juta,” tutur Bu win panggilan akrabnya.

Kesuksesan tak membuatnya lupa, usai dari pameran ia memberi masing-masing anggota KUB dua lembar kain untuk dibatik dari kantong pribadinya. “Untuk memotivasi mereka agar lebih rajin membatik,” ungkapnya

Ilmu yang dimilikinyapun tak jarang dibagi secara gratis seperti beberapa tamu dari langkat, sumatera utara, Jakarta atau daerah sekitar yang ingin belajar membatik. Ada beberapa tamu yang terpaksa menginap di homestay rumah-rumah penduduk guna belajar proses membatik.

Ia juga sering diundang untuk memberikan pelatihan baik membatik atau pewarnaan.

Sekarang ia ingin belajar mengekspor batiknya ke manca negara secara langsung hanya saja baru teori yang ia dapat, prakteknya belum pernah ia lakukan.

Selain itu harapannya untuk memajukan KUB-nya Bu win ingin kelompoknya mendapat bantuan hibah kain batik.

“Semoga tahun depan bisa dapat bantuan kain, agar lebih memotivasi pengrajin yang masih kecil-kecil untuk lebih produktif,” harapnya.

Tuntaskan Program Desa Wisata Batik

Pembangunan Gapura selamat datang dan Showroom batik di Desa Babagan Lasem hanya berjarak beberapa meter dari jalan pantura

Pembangunan Gapura selamat datang dan Showroom batik di Desa Babagan Lasem hanya berjarak beberapa meter dari jalan pantura

Pemerintah Kabupaten Rembang sampai saat ini terus menuntaskan program pembangunan desa wisata batik yang mengintegrasikan lima desa yakni Desa Babagan dan Desa Karas Gede, Kecamatan Lasem serta Desa Karas Kepoh, desa Tuyuhan dan Desa Pancur, Kecamatan Pancur.

“Saat ini baru menyelesaikan pembangunan gapura pintu masuk di desa Babagan serta pemasangan lampu-lampu, rencananya akan disusul pembangunan showroom batik tulis,” tutur Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang H. Hamzah Fatoni SH MKn.

Dipilihnya Desa Babagan Kecamatan Lasem sebagai pintu masuk desa wisata batik tidak lepas dari letak desa tersebut yang berada tepat dipinggi jalan pantura sehingga memudahkan bagi wisatawan yang melintas untuk mengenalinya.

Rencananya rute yang dilalui oleh para pelancong berawal dari Desa babagan – Desa Karas Gede – Desa Karas Kepoh – Lewat Jembatan Gantung – Desa Tuyuhan dan kemudian di Dusun Ngropoh Desa Pancur.

Dengan rute ini maka pelancong akan melintasi empat desa wisata kampung batik tulis Lasem yakni Babagan, Karasgede, Karaskepoh dan Dusun Ngropoh Desa Pancur serta satu desa wisata kuliner yaitu Desa Tuyuhan.

“Diharapkan wisatawan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis lasem dari hulu sampai hilir dan jika menginginkan mereka juga dapat langsung belajar kepada pengrajin,” kata Sekda.

Sekda mengakui saat ini pembangunan Desa Wisata Batik Tulis Lasem baru memfokuskan pada pembangunan dan penataan sarana dan prasarana. Seperti penataan homestay dan outlet-outlet batik pengrajin. Sedangkan pembangunan jalan masih menunggu. Kedepan juga akan dibangun showroom yang difungsikan untuk museum batik tulis lasem.

Untuk mempercepat pembangunan desa wisata, Pemkab Rembang menggandeng beberapa perbankan nasional untuk ikut mendanai pembangunan seperti pembuatan gapura dan showroom serta memberikan kredit lunak bagi pengrajin yang ingin mengembangkan usaha.

Untuk pelatihan – pelatihan bagi pengrajin juga terus dilaksanakan melalui dinas terkait seperti Dinperindagkop dan UMKM serta BPMPKB, selain itu pengrajin batik tulis lasem juga diajak study banding ke beberapa daerah penghasil batik seperti Solo dan Pekalongan.

Meskipun belum sempurna beberapa wisatawan telah mengunjungi desa wisata batik seperti belum lama ini tamu dari Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatra Utara dan Himpunan Ratna Busana (HRB) Cabang Solo menginap di rumah Sri Winarti pengrajin batik “sumber rejeki” dari Desa Babagan Lasem.

Sekda menegaskan program desa wisata batik mempunyai tujuan untuk melestarikan, mempromosikan dan mengembangkan batik tulis lasem sehingga hal itu akan memberikan motivasi bagi para pengrajin untuk meningkatkan kreatifitas dan kualitas produk yang pada akhirnya akan meningkatkan ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah.

“Desa Wisata Batik juga akan menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Rembang,” harap Sekda.

Akulturasi Budaya

saat kunjungan Presiden beberapa waktu lalu Plt Bupati Rembang H. Abdul Hafidz (berpeci)mengenakan batik tulis lasem motif bledak dan Sekda Rembang H. Hamzah Fatoni (sebelah kanan Plt Bupati) mengenakan batik tulis motif gabungan

saat kunjungan Presiden beberapa waktu lalu Plt Bupati Rembang H. Abdul Hafidz (berpeci)mengenakan batik tulis lasem motif bledak dan Sekda Rembang H. Hamzah Fatoni (sebelah kanan Plt Bupati) mengenakan batik tulis motif gabungan

Sejak diakui sebagai warisan budaya dunia euforia penggunaan batik di Indonesia makin meluas. Batik sekarang tidak hanya dimonopoli oleh Solo dan Pekalongan. Hampir setiap daerah berlomba mengeluarkan ciri khas batik masing-masing daerah.

Lasem atau sering disebut sebagai tiongkok kecil juga memiliki ciri khas batik yang jarang ditemui didaerah lain. Selain dikerjakan secara manual atau lebih dikenal sebagai batik tulis, Batik Tulis Lasem juga banyak dipengaruhi oleh budaya dari negeri Tiongkok.

Menurut cerita, Lasem merupakan titik pertama pendaratan pelayar dan saudagar Tiongkok di Pulau Jawa belasan abad silam. Seiring dengan maraknya kedatangan mereka di wilayah Lasem, berkembanglah pemukiman Tiongkok di Lasem. Kini, bangunan-bangunan berarsitektur Tiongkok bertebaran di kota yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Rembang ini.

Para imigran asal Tiongkok ini menularkan keahlian membatik mereka kepada warga setempat. Hingga sampai sekarang motif batik tulis Lasem menjadi campuran ekspresi budaya Jawa dan Tiongkok.

Plt Bupati Rembang H. Abdul Hafidz didampingi Sekretaris daerah Kabupaten Rembang H. Hamzah Fatoni SH MKn  mengatakan motif-motif batik seperti burung hong, naga dan tanaman bambu merupakan motif ala tiongkok dipadu dengan motif khas lainnya yaitu motif Latoan dan Watu (Batu) Pecah/Kricak.

Latoan adalah tanaman khas sejenis rumput laut yang banyak terdapat di sekitar pantai yang dapat dimakan sebagai urap. Karena banyak terdapat  di Lasem, maka motif ini digunakan sebagai motif batik.

Selain latoan, terdapat motif batu pecah. Motif ini memiliki nilai sejarah. Pada zaman dahulu, tepatnya ketika Gubernur Jenderal Belanda, Daendels membuat jalan dari Anyer sampai dengan Panarukan sepanjang 1000 km, para bupati diminta menyerahkan para pemuda sebagai pekerja paksa mereka. Mereka berfungsi sebagai tenaga kerja pemecah batu, dan pada zaman tersebut juga terjadi epidemik malaria dan influenza yang menyerang Rembang yang menimbulkan banyak kematian di Rembang dan Lasem. Dampak dari itu adalah kesedihan mendalam bagi masyarakat Lasem. Kesedihan ini ditampilkan dalam bentuk motif batu pecah. Namun, karena bagusnya motif ini maka banyak ditiru oleh daerah lain.

Warna khas dari Batik Lasem ini adalah warna getih pitik (merah darah ayam), hijau botol bir dan warna biru tua. Selain itu, Batik Lasem ini juga dikenal dengan sebutan Batik Tiga Negeri. Sebutan ini didapatkan dari proses pewarnaan batik. Terdapat tiga kali proses pewarnaan dalam pembuatan Batik Tiga Negeri ini.

Sampai saat ini jumlah pengrajin batik Tulis Lasem semakin bertambah mencapai lebih dari 70 pengrajin. Itupun yang tercatat atau tergabung dalam koperasi batik Lasem yang diketuai oleh Maksum pemilik Batik Tulis Dampoawang Art baru 70 pengrajin.

“Untuk jumlah pembatiknya menurut data dari Bagian Perekonomian Setda Rembang hampir mencapai 12 ribu pembatik, sekarang banyak remaja baik putra/putri yang tidak malu lagi kerja menjadi pembatik, keterampilan membatik juga dimasukkan dalam muatan lokal sekolahan sehingga generasi penerus batik tulis lasem tetap terjaga,” ujar Plt Bupati.

Untuk lebih mempromosikan batik tulis lasem, Pemkab juga memfasilitasi beberapa pengrajin batik untuk mengikuti pameran-pameran batik baik taraf lokal, regional, nasional maupun internasional seperti di Jakarta, Solo, Semarang, Jogja bahkan di Kamboja pernah difasilitasi oleh Pemkab Rembang.

Sedangkan untuk lokal Pemkab Rembang menggelar pameran Rembang Ekspo yang sebagian diikuti oleh pengrajin lokal batik Lasem.

Strategi lainnya adalah dengan menitipkan batik Lasem kepada pengusaha Rembang yang mengadakan pameran di luar negeri seperti Arifin pemilik UD Sasana Antiq yang bergerak dibidang furniture setiap pameran diluar negeri dititipi batik Lasem untuk ikut dipromosikan.

Guna menjaga kekhasan batik tulis lasem, beberapa motif sudah dipatenkan dan memperoleh HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Rembang yang mewajibkan PNS Pemkab menggunakan batik sebagai seragam setiap hari rabu dan kamis turut menyumbang sebagai salah satu faktor penggerak kebangkitan batik tulis lasem yang sempat terpuruk. Hal tersebut diakui Santoso pemilik batik merek “pusaka beruang”.

“Karyawan perusda juga kami himbau untuk menggunakan batik Lasem dan nantinya BUMN yang ada di Rembang juga kita himbau menggunakan batik Lasem,” tutur Plt Bupati

Saat ini motif batik tulis lasem dikembangkan oleh sesepuh masyarakat Tionghoa yang bernama Sigit Wicaksono yang memiliki nama China, Nyo Tjen Hian. Beliau seorang pengusaha Batik yang bermerek Batik “Sekar Kencana”.

Beliau mengembangkan motif baru yang menggunakan huruf Thionghoa. Proses penciptaan motif ini adalah pada saat malam Tahun Baru China. Dalam perenungannya, beliau mendapatkan semacam ilham untuk  membuat motif yang baru dalam batik. Akhir dari proses perenungan ini lahirlah motif baru. Motif tersebut adalah berupa kata-kata mutiara dalam aksara China. Filosofi yang terkandung pada motif ini adalah empat penjuru samudera semuanya adalah sama, bakti anak terhadap orang tua, murid kepada guru, dan rakyat kepada pemerintah. Agar bisa bergabung dengan filosofi Jawa, Beliau menuliskan motif ini ke dalam sebuah batik yang bermotifkan Sekar Jagat. Sekar jagat itu sendiri artinya adalah Bunga Dunia.

Batik Lasem dapat dikatakan sebagai bukti akulturasi antara masyarakat tiongkok dan pribumi. Proses ini sudah berlangsung ratusan tahun dan karena akulturasi inilah maka Batik Lasem menjadi populer, unik dan banyak diminati.