Akulturasi Budaya

saat kunjungan Presiden beberapa waktu lalu Plt Bupati Rembang H. Abdul Hafidz (berpeci)mengenakan batik tulis lasem motif bledak dan Sekda Rembang H. Hamzah Fatoni (sebelah kanan Plt Bupati) mengenakan batik tulis motif gabungan

saat kunjungan Presiden beberapa waktu lalu Plt Bupati Rembang H. Abdul Hafidz (berpeci)mengenakan batik tulis lasem motif bledak dan Sekda Rembang H. Hamzah Fatoni (sebelah kanan Plt Bupati) mengenakan batik tulis motif gabungan

Sejak diakui sebagai warisan budaya dunia euforia penggunaan batik di Indonesia makin meluas. Batik sekarang tidak hanya dimonopoli oleh Solo dan Pekalongan. Hampir setiap daerah berlomba mengeluarkan ciri khas batik masing-masing daerah.

Lasem atau sering disebut sebagai tiongkok kecil juga memiliki ciri khas batik yang jarang ditemui didaerah lain. Selain dikerjakan secara manual atau lebih dikenal sebagai batik tulis, Batik Tulis Lasem juga banyak dipengaruhi oleh budaya dari negeri Tiongkok.

Menurut cerita, Lasem merupakan titik pertama pendaratan pelayar dan saudagar Tiongkok di Pulau Jawa belasan abad silam. Seiring dengan maraknya kedatangan mereka di wilayah Lasem, berkembanglah pemukiman Tiongkok di Lasem. Kini, bangunan-bangunan berarsitektur Tiongkok bertebaran di kota yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Rembang ini.

Para imigran asal Tiongkok ini menularkan keahlian membatik mereka kepada warga setempat. Hingga sampai sekarang motif batik tulis Lasem menjadi campuran ekspresi budaya Jawa dan Tiongkok.

Plt Bupati Rembang H. Abdul Hafidz didampingi Sekretaris daerah Kabupaten Rembang H. Hamzah Fatoni SH MKn  mengatakan motif-motif batik seperti burung hong, naga dan tanaman bambu merupakan motif ala tiongkok dipadu dengan motif khas lainnya yaitu motif Latoan dan Watu (Batu) Pecah/Kricak.

Latoan adalah tanaman khas sejenis rumput laut yang banyak terdapat di sekitar pantai yang dapat dimakan sebagai urap. Karena banyak terdapat  di Lasem, maka motif ini digunakan sebagai motif batik.

Selain latoan, terdapat motif batu pecah. Motif ini memiliki nilai sejarah. Pada zaman dahulu, tepatnya ketika Gubernur Jenderal Belanda, Daendels membuat jalan dari Anyer sampai dengan Panarukan sepanjang 1000 km, para bupati diminta menyerahkan para pemuda sebagai pekerja paksa mereka. Mereka berfungsi sebagai tenaga kerja pemecah batu, dan pada zaman tersebut juga terjadi epidemik malaria dan influenza yang menyerang Rembang yang menimbulkan banyak kematian di Rembang dan Lasem. Dampak dari itu adalah kesedihan mendalam bagi masyarakat Lasem. Kesedihan ini ditampilkan dalam bentuk motif batu pecah. Namun, karena bagusnya motif ini maka banyak ditiru oleh daerah lain.

Warna khas dari Batik Lasem ini adalah warna getih pitik (merah darah ayam), hijau botol bir dan warna biru tua. Selain itu, Batik Lasem ini juga dikenal dengan sebutan Batik Tiga Negeri. Sebutan ini didapatkan dari proses pewarnaan batik. Terdapat tiga kali proses pewarnaan dalam pembuatan Batik Tiga Negeri ini.

Sampai saat ini jumlah pengrajin batik Tulis Lasem semakin bertambah mencapai lebih dari 70 pengrajin. Itupun yang tercatat atau tergabung dalam koperasi batik Lasem yang diketuai oleh Maksum pemilik Batik Tulis Dampoawang Art baru 70 pengrajin.

“Untuk jumlah pembatiknya menurut data dari Bagian Perekonomian Setda Rembang hampir mencapai 12 ribu pembatik, sekarang banyak remaja baik putra/putri yang tidak malu lagi kerja menjadi pembatik, keterampilan membatik juga dimasukkan dalam muatan lokal sekolahan sehingga generasi penerus batik tulis lasem tetap terjaga,” ujar Plt Bupati.

Untuk lebih mempromosikan batik tulis lasem, Pemkab juga memfasilitasi beberapa pengrajin batik untuk mengikuti pameran-pameran batik baik taraf lokal, regional, nasional maupun internasional seperti di Jakarta, Solo, Semarang, Jogja bahkan di Kamboja pernah difasilitasi oleh Pemkab Rembang.

Sedangkan untuk lokal Pemkab Rembang menggelar pameran Rembang Ekspo yang sebagian diikuti oleh pengrajin lokal batik Lasem.

Strategi lainnya adalah dengan menitipkan batik Lasem kepada pengusaha Rembang yang mengadakan pameran di luar negeri seperti Arifin pemilik UD Sasana Antiq yang bergerak dibidang furniture setiap pameran diluar negeri dititipi batik Lasem untuk ikut dipromosikan.

Guna menjaga kekhasan batik tulis lasem, beberapa motif sudah dipatenkan dan memperoleh HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Rembang yang mewajibkan PNS Pemkab menggunakan batik sebagai seragam setiap hari rabu dan kamis turut menyumbang sebagai salah satu faktor penggerak kebangkitan batik tulis lasem yang sempat terpuruk. Hal tersebut diakui Santoso pemilik batik merek “pusaka beruang”.

“Karyawan perusda juga kami himbau untuk menggunakan batik Lasem dan nantinya BUMN yang ada di Rembang juga kita himbau menggunakan batik Lasem,” tutur Plt Bupati

Saat ini motif batik tulis lasem dikembangkan oleh sesepuh masyarakat Tionghoa yang bernama Sigit Wicaksono yang memiliki nama China, Nyo Tjen Hian. Beliau seorang pengusaha Batik yang bermerek Batik “Sekar Kencana”.

Beliau mengembangkan motif baru yang menggunakan huruf Thionghoa. Proses penciptaan motif ini adalah pada saat malam Tahun Baru China. Dalam perenungannya, beliau mendapatkan semacam ilham untuk  membuat motif yang baru dalam batik. Akhir dari proses perenungan ini lahirlah motif baru. Motif tersebut adalah berupa kata-kata mutiara dalam aksara China. Filosofi yang terkandung pada motif ini adalah empat penjuru samudera semuanya adalah sama, bakti anak terhadap orang tua, murid kepada guru, dan rakyat kepada pemerintah. Agar bisa bergabung dengan filosofi Jawa, Beliau menuliskan motif ini ke dalam sebuah batik yang bermotifkan Sekar Jagat. Sekar jagat itu sendiri artinya adalah Bunga Dunia.

Batik Lasem dapat dikatakan sebagai bukti akulturasi antara masyarakat tiongkok dan pribumi. Proses ini sudah berlangsung ratusan tahun dan karena akulturasi inilah maka Batik Lasem menjadi populer, unik dan banyak diminati.

Iklan

Komentar ditutup.