Category Archives: BUDAYA

Tuntaskan Program Desa Wisata Batik

Pembangunan Gapura selamat datang dan Showroom batik di Desa Babagan Lasem hanya berjarak beberapa meter dari jalan pantura

Pembangunan Gapura selamat datang dan Showroom batik di Desa Babagan Lasem hanya berjarak beberapa meter dari jalan pantura

Pemerintah Kabupaten Rembang sampai saat ini terus menuntaskan program pembangunan desa wisata batik yang mengintegrasikan lima desa yakni Desa Babagan dan Desa Karas Gede, Kecamatan Lasem serta Desa Karas Kepoh, desa Tuyuhan dan Desa Pancur, Kecamatan Pancur.

“Saat ini baru menyelesaikan pembangunan gapura pintu masuk di desa Babagan serta pemasangan lampu-lampu, rencananya akan disusul pembangunan showroom batik tulis,” tutur Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang H. Hamzah Fatoni SH MKn.

Dipilihnya Desa Babagan Kecamatan Lasem sebagai pintu masuk desa wisata batik tidak lepas dari letak desa tersebut yang berada tepat dipinggi jalan pantura sehingga memudahkan bagi wisatawan yang melintas untuk mengenalinya.

Rencananya rute yang dilalui oleh para pelancong berawal dari Desa babagan – Desa Karas Gede – Desa Karas Kepoh – Lewat Jembatan Gantung – Desa Tuyuhan dan kemudian di Dusun Ngropoh Desa Pancur.

Dengan rute ini maka pelancong akan melintasi empat desa wisata kampung batik tulis Lasem yakni Babagan, Karasgede, Karaskepoh dan Dusun Ngropoh Desa Pancur serta satu desa wisata kuliner yaitu Desa Tuyuhan.

“Diharapkan wisatawan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis lasem dari hulu sampai hilir dan jika menginginkan mereka juga dapat langsung belajar kepada pengrajin,” kata Sekda.

Sekda mengakui saat ini pembangunan Desa Wisata Batik Tulis Lasem baru memfokuskan pada pembangunan dan penataan sarana dan prasarana. Seperti penataan homestay dan outlet-outlet batik pengrajin. Sedangkan pembangunan jalan masih menunggu. Kedepan juga akan dibangun showroom yang difungsikan untuk museum batik tulis lasem.

Untuk mempercepat pembangunan desa wisata, Pemkab Rembang menggandeng beberapa perbankan nasional untuk ikut mendanai pembangunan seperti pembuatan gapura dan showroom serta memberikan kredit lunak bagi pengrajin yang ingin mengembangkan usaha.

Untuk pelatihan – pelatihan bagi pengrajin juga terus dilaksanakan melalui dinas terkait seperti Dinperindagkop dan UMKM serta BPMPKB, selain itu pengrajin batik tulis lasem juga diajak study banding ke beberapa daerah penghasil batik seperti Solo dan Pekalongan.

Meskipun belum sempurna beberapa wisatawan telah mengunjungi desa wisata batik seperti belum lama ini tamu dari Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatra Utara dan Himpunan Ratna Busana (HRB) Cabang Solo menginap di rumah Sri Winarti pengrajin batik “sumber rejeki” dari Desa Babagan Lasem.

Sekda menegaskan program desa wisata batik mempunyai tujuan untuk melestarikan, mempromosikan dan mengembangkan batik tulis lasem sehingga hal itu akan memberikan motivasi bagi para pengrajin untuk meningkatkan kreatifitas dan kualitas produk yang pada akhirnya akan meningkatkan ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah.

“Desa Wisata Batik juga akan menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Rembang,” harap Sekda.

Lubang Candu di Lawang Ombo

soebagio (paling kiri) bersama Gubernur Ganjar Pranowo melihat Lubang Candu

soebagio (paling kiri) bersama Gubernur Ganjar Pranowo melihat Lubang Candu

Menyusuri Kota Lasem tidak hanya disuguhi oleh kemajuan jaman modern tapi juga banyak tempat yang menggambarkan sisa-sisa kejayaan perdagangan Lasem masa lampau. Salah satunya adalah “Lawang Ombo.” Mengunjungi “Lawang Ombo” seakan kita diajak menembus dimensi waktu yang sangat berbeda dengan sekarang baik dari bentuk fisik bangunan maupun sistem keluar masuk barang perdagangan.

Lawang Ombo adalah komplek bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6000 meter persegi. Bangunan tersebut di kelilingi oleh pagar setinggi satu setengah meter. Pintu gerbang untuk memasuki kawasan tersebut menurut pemilik Lawang Ombo, Soebagio (52), dahulunya terbuat dari kayu, dengan ukuran yang lumayan besar. Dari ukuran tersebutlah nama Lawang Ombo yang dalam bahasa Jawa berarti pintu besar itu lahir. Kini pintu tersebut telah diganti dengan pintu besi dengan ukuran yang lebih kecil.

Pintu utama untuk memasuki bangunan itu berukurang lumayan besar, yakni dengan tinggi sekitar 4 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Pintu berwarna krem tersebut terbuat dari kayu yang cukup tebal, dengan balok kayu sebagai bingkainya. Di sebelah kiri dan kanan pintu itu terdapat jendela yang ukurannya juga lumayan besar, yakin dengan tinggi sekitar 2 meter dengan lebar sekitar 1 meter, dengan tralis kayu sebagai penutupnya. Di pojok timur bagian muka bangunan itu juga terdapat pintu. Di ruangan yang terletak di balik pintu itu lah terdapat lubang Candu itu.

Soebagio mengatakan lubang itu konon digunakan untuk menyeludupkan Candu (Papaver Somniverum). Soebagio menyebutkan dari cerita ibunya, lubang tersebut konon digunakan untuk menyeludupkan candu. Di dasar lubang itu dulunya terdapat lorong besar yang bisa dimuati perahu, dan lorong tersebut tersambung dengan sungai Babagan, yang mengalir di arah barat kompel tersebut, dengan jarak sekitar 20 meter. Kini lorong perahu itu sudah dipenuhi dengan lumpur.

“Tidak cuma lubang saja, jaman dulu peti mati juga digunakan untuk menyeludupkan candu. Jadi peti mati itu bukan diisi orang mati, tapi diisi candu. Peti itu di kawal seluruh keluarga sambil menangis biar polisi tidak curiga,” katanya.

Bangunan tersebut kata dia awalnya di bangun oleh seorang Kapiten Cina bermarga Liem. Ia menduga dirinya adalah keturunan ketujuh dari Kapiten yang juga dikubur di komplek tersebut. Sejak awal bangunan tersebut didirikan, kecuali pintu masuk kawasan tersebut dan bangunan yang dihancurkan tentara Jepang hampir tidak ada yang dirubah.

Bangunan itu sempat diminta oleh Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah diubah sebagai tempat penginapan untuk turis.

Ia menolak dengan halus usul tersebut karena khawatir akan menimbulkan polemik. Di tempat itu kini kerap digelar acara budaya. Soebagio mengaku akan mengizinkan siapapun yang meminjam tempat tersebut tanpa memungut bayaran.

Makam Tan Sin Ko Aset Sejarah Baru Rembang

MakamSatu lagi situs bersejarah di Kecamatan Lasem yang saat ini mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan. Yaitu Makam Tan Sin Ko, salah satu pejuang lokal yang dahulunya sering disebut Singseh oleh masyarakat sekitar makam yang terletak di desa Dorokandang.

Belum lama ini makam Tan Sin Ko juga ramai didatangi rombongan keturunan Raden Mas Said (Mangkunegara I Keraton Solo) dan warga Tionghoa yang sebagian besar merupakan warga Lasem yang tinggal di jakarta (Pawala). Mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dihadapan Makam.

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Ernantoro saat ditemui di rumahnya menceritakan bahwa Tan Sin Ko adalah salah satu pemimpin ribuan pasukan Tionghoa yang ikut mengusir Kompeni Belanda di Semarang dan wilayah Rembang – Lasem bersama pasukan pribumi yang dipimpin putra Mantan Bupati Lasem Raden Panji Margono dan Bupati Lasem Widyaningrat atau Oey Ing Kiat pada tahun 1741.

“Tidak hanya itu, Tan Sin Ko juga ikut berperang melawan VOC di Demak, Grobogan, Kudus, Pati dan Juwana bersama Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyowo)”.tambahnya

Pada bulan Oktober 1742 Tan Sin Ko akhirnya gugur saat bertempur melawan VOC di pantai Lasem, kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dimakamkan di dukuh Narukan Desa Dorokandang.

Makam Tan Sin Ko yang belum lama ini ditemukan dalam kondisi tidak terawat, sekarang sudah direhab. Ke depan diprediksi akan semakin banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan. Pasalnya Fokmas bersama Pawala tengah memperjuangkan Tan Sin Ko agar mendapat status sebagai Pahlawan Nasional.

“Rencananya dalam waktu dekat di area makam Tan Sin Ko juga akan dibangun patung Tan Sin Ko.“ ungkap Toro.

Sementara Kepala Desa Dorokandang, Drs. Kasmunik saat menanggapi perkembangan makam Tan Sin Ko yang ada wilayah desanya mengaku sangat mendukung, namun pihaknya menyarankan agar akses jalan menuju  makam dapat diperbaiki,sehingga peziarah nyaman ketika masuk area pemakaman.

Masyarakat yang haus akan wisata sejarah sekarang ini, diyakini membuat banyak orang yang ingin mengetahui lebih jauh lagi situs-situs sejarah, termasuk yang ada di Kabupaten Rembang. Apalagi dari pantauan Bangkit masyarakat Lasem bersama Fokmas sejauh ini mempunyai semangat yang sama, yaitu semangat ingin memajukan, mengembangkan potensi wisata yang ada di Kecamatan dengan sebutan Tiongkok Kecil ini.

Desa Ngadem Rembang Melestarikan Sedekah Bumi dengan Pacuan Kuda

Balap Kuda

Balap Kuda

Ratusan warga mulai anak kecil, bapak- bapak bahkan ibu-ibu beramai-ramai memadati lapangan sepakbola desa Ngadem kecamatan kota, Kabupaten Rembang, belum lama ini.  Namun kedatangan mereka di lapangan hijau ini tidak untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Melainkan balap kuda yang memang digelar oleh pihak desa setempat untuk meramaikan acara sedekah bumi setiap tahunnya.

Acara balapan kuda tersebut memang sudah ditunggu-tunggu warga, setiap desa ini merayakan sedekah bumi. tidak hanya warga sekitar namun juga dari warga diluar kecamatan Rembang yang sengaja datang untuk menyaksikan salah satu hiburan murah yang memang jarang sekali dijumpai.

Lomba Balapan kuda ini diikuti oleh 12 peserta yang tidak hanya berasal dari warga desa Ngadem, namun juga dari desa lain seperti desa jeruk Kecamatan Kaliori.

Menurut keterangan Kepala Desa Ngadem, Darsono, di babak penyisihan peserta di bagi 4 grup, masing-masing grup terdari atas 3 pembalap. Mereka akan melakukan balapan dengan tiga putaran, yang mencapai garis finish pertama akan melaju ke babak final.

Setelah berhasil menemukan empat nama yang terdepan dalam tiap grup. Keempat finalis ini akan bersaing memperebutkan posisi juara 1, 2 dan 3 dengan melintasi lintasan balap sebanyak lima kali putaran.

Dalam babak final, Joki kuda fadlan dari desa Jeruk Kaliori menjadi juara satu. fadlan berhasil menjadi yang terdepan setelah melesat jauh dari ketiga finalis lainnya yaitu Bari dari desa Siman Kaliori, Sawio dari weton dan Kecik joki tuan rumah.

Balap kuda adalah salah satu tradisi lokal dari beberapa desa di kabupaten Rembang yang terus dilestarikan oleh warga setempat.  Dalam Balapan kuda ini, kita bisa mengambil  nilai-nilai seperti nilai perjuangan untuk memenangkan perlombaan dan nilai sportifitas.

Kesenian pacuan kuda itu sudah ada sejak Zaman Majapahit. Saat itu, Pangeran Sri Sawardana, adik penguasa Lasem, Bhree Lasem (Dewi Indu), berniat membentuk prajurit . Selain Desa Ngadem, lomba serupa setiap tahun juga digelar Di Desa Ngotet dan Desa Pengkol, Kecamatan Kaliori, Rembang. Tradisi sedekah bumi merupakan tradisi yang dipertahankan masyarakat pesisir timur Jawa Tengah, sebagai ungkapan syukur masyarakat karena telah berhasil menikmati rezeki yang diberikan Sang Khalik. Masyarakat setempat sehari- harinya bercocok tanam, dan sebagian melaut.

Selain itu Balap kuda ini juga bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang ingin berkunjung di Rembang.

Penjamasan Bende Becak, Ritual Kebudayaan Masyarakat Bonang

Bende becak

Bende becak

Penjamasan bende becak adalah sebuah ritual kebudayaan yang tiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bonang Kecamatan Lasem tepatnya setiap tanggal 10 Dzulhijjah kalender Islam. Menurut Abdul Rohim, seorang juru kunci petilasan sunan Bonang mengatakan konon bende becak merupakan perwujudan dari seorang utusan dari kerajaan majapahit.

Pada awalnya Sunan Bonang yang telah berhasil mendirikan pondok pesantren di desa kemuning yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Desa Bonang mengirim surat kepada raja majapahit yaitu Raja Brawijaya untuk memeluk agama Islam. Kemudian Raja Brawijaya mengutus utusannya yang bernama Becak untuk memberikan jawaban penolakan terhadap surat tersebut. Setiba di pintu pesantren Sunan Bonang bersama murid-muridnya sedang mengaji. Sambil menunggu Becak rengen-rengeng (bernyanyi-nyanyi kecil).

Merasa terganggu Sunan Bonang bertanya kepada muridnya suara apakah itu? Para murid menjawab itu suara orang bernyanyi tapi Sunan Bonang berkata itu bukan suara orang tapi suara Bende (Gong yang berukuran kecil). Seketika Becak berubah menjadi sebuah bende.

Meskipun kurang dalam hal promosi namun setiap penjamasan bende becak selalu di hadiri oleh ratusan orang. Mereka mempercayai mendapatkan berkah dari air, ketan, tusuk sate dan kain mori yang dipergunakan untuk memandikan bende becak. Hakim salah satu pengunjung dari Jakarta mengatakan ia bersama adiknya membawa botol air kemasan untuk mendapatkan air sisa penjamasan dengan maksud semoga mendapat berkah.

KH Dimyati salah sorang ulama yang menghadiri acara tersebut berulangkali meminta kepada masyarakat agar tidak terjebak kedalam kemusyrikan. Beliau mengatakan air, ketan, tusuk sate dan kain mori hanyalah sebagai wasilah (perantara) sedangkan untuk meminta tetap hanya kepada Allah SWT.

Sementara itu wakil Bupati Rembang H. Abdul Hafidz mengatakan penjamasan bende becak merupakan tradisi tahunan untuk melestarikan budaya. “Tradisi penjamasan ini untuk mengingatkan kita pada perjalanan Waliyullah Sunan Bonang dalam usaha menyebarkan syiar agama Islam ditanah jawa ini,” ujar Wabup.

Wabup berharap agar masyarakat dapat meneladani perilaku dan perjuangan Sunan Bonang karena dalam era globalisasi ini masyarakat dihadapkan kepada kemajuan teknologi dan kebebasan tak terkecuali pengaruh negatifnya.

Larung Saji Ciri Kebudayaan Nelayan

Barongan

Bupati Rembang H. Moch Salim mengatakan, kegiatan syawalan Kirab budaya dan larung sesaji di desa Tasik Agung merupakan tradisi kebudayaan ciri khas nelayan di pesisir pantai kabupaten Rembang. Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan setiap tahun dilaksanakan. Hal tersebut dikatakan saat melepas Kirab budaya dan larung sesaji didesaTasik Agung.

Bupati berharap tradisi ini bisa terus dilestarikan, pihaknya bersama Dinas pariwisata dan instansi terkait akan selalu mendukung kegiatan ini.

Selain itu Bupati meminta kepada seluruh peserta dan penonton Kirab budaya dan larung sesaji untuk menjaga ketertiban selama acara larung saji yang juga dimeriahkan panggung hiburan musik dangdut. ”Kalau acara berjalan aman maka ijin penyelenggaraan akan lebih mudah untuk ke depannya,” ujar Bupati

Sementara itu Kepala desa Tasikagung Supolo mengatakan Kirab budaya dan larung sesaji merupakan ungkapan rasa syukur kepada Illahi atas karunia hasil laut yang melimpah diberikan kepada nelayan Tasikagung khususnya dan nelayan Rembang umumnya.

Supolo menambahkan, Selain kegiatan kirab, juga digelar hiburan seperti Musik dangdut, Wayang kulit, ketoprak dan berbagai kegiatan lomba. Kegiatan berakhir tanggal 8 september dan akan ditutup dengan Pengajian. ”total biaya yang dikeluarkan selama kegiatan ini lebih dari Rp 500 juta,” ungkap Supolo

Kirab budaya dan larung sesaji dalam tradisi Syawalan di desa TasikAgung Kabupaten Rembang pada 2011 kali ini diikuti oleh lebih dari seribu orang peserta dan 17 kelompok dan dilakukan dengan cara berjalan kaki dan naik kendaraan.

Selain itu, masing-masing kelompok peserta turut membawa sejumlah “ubo rampe” berupa replika kapal dan tiruan berbagai jenis ikan berukuran besar yang ditempatkan di atas truk panjang dan terbuka.

Peserta kirab melintasi kawasan Kali Karanggeneng-Jalan Wahidin-Tembokmalang-Perempatan Grajen-Perempatan Eks Stasiun Kota-Jalan Kartini-Perempatan Jaeni-Tugu Lilin-Jalur Pantura, dan berakhir kembali ke Pesisir Tasikagung.

Santoso, Pelestari Batik Lasem

Motif Belanda

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Rembang yang mewajibkan penggunaan batik sebagai seragam merupakan salah satu faktor penggerak kebangkitan batik tulis lasem yang sempat terpuruk. Hal tersebut diakui Santoso pemilik batik merek pusaka beruang ketika ditemui di showroomnya di desa karang turi Kecamatan Lasem.

Sebelum meneruskan usaha batik orang tuanya Santoso bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Setelah sempat merantau ke Jakarta, Santoso pulang ke Lasem untuk meneruskan usaha yang pernah di rintis keluarganya yaitu membuat batik tulis Lasem. Santoso mengaku saat pertama membuat batik, hampir satu lemari kain yang telah di batik sobek karena salah dalam perlakuannya.

Namun setelah mendapat pelatihan batik yang diselenggarakan Dinas Perindagkop dan UMKM Kabupaten Rembang  Santoso mengaku mengetahui cara pewarnaan batik yang benar dan dapat mengembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Saat ini Santoso memiliki ratusan karyawan padahal ketika memulai usahanya pada tanggal 13 Mei 2005 dia hanya memiliki empat orang karyawan. “Pekerjaan karyawan bersifat borongan dengan upah Rp 20.000 sampai Rp 35.000,- per hari,” ujar Santoso.

Selain itu dengan bekerjasama dengan salah satu bank nasional milik pemerintah karyawan batik santoso diberi kredit ringan untuk dapat mengembangkan diri. “Pemberian kredit ini bertujuan agar buruh (karyawan) batik dapat lebih sejahtera, salahsatunya dengan dibelikan hewan ternak sehingga pendapatan buruh tidak dari membatik saja tapi juga dari bidang lain,” harap Santoso.

Hal lain yang dilakukannya adalah mendirikan Kampung Batik di Desa keropoh Kecamatan Pancur. Ketika sore hari kita ke perkampungan batik tersebut dapat kita temui banyak ibu-ibu yang membatik didepan rumah mereka. “Kita sudah memiliki wisata kuliner lontong tuyuhan yang letaknya tidak jauh dari kampung batik ini, semoga saja kedua hal ini (wisata kuliner dan kampung batik-red) dapat digabung,” kata Santoso.

Terkait dengan motif batik Lasem sekarang ini, Santoso mengatakan Batik Tulis Lasem sudah berkembang dan tidak tergantung kepada beberapa motif saja. Selain itu dia juga mereproduksi batik-batik jaman dahulu seperti batik belanda, namun diakui Santoso untuk pewarnaan ada beberapa warna yang tidak dapat dimunculkan kembali.

Usaha yang telah dilaksanakan Santoso menuai hasil yang bahkan tidak dibayangkan olehnya, salahsatunya penghargaan upakarti dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2010.