SEJARAH RADIO

logo cb

Keberadan  Radio Citra Bahari (CB) FM Rembang yang sebelumnya bernama Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Rembang, tak bisa dilepaskan dari Radio Siaran Daerah Rembang (SIRADAR) yang lahir di Penghujung tahun 60-an.

Hendro Sukanto (65) warga desa Jalan Puri Utara II/34 Rembang, Pensiunan Pegawai Depdikbud, satu-satunya saksi sejarah berdirinya SIRADAR yang masih hidup menceritakan, Saat bumi Indonesia dilanda kesedihan dan kepedihan mendalam akibat gugurnya kusuma bangsa yang cukup berpengaruh saat itu karena pemberontakan PKI melalui Gerakan 30 September 1965 , kehidupan berbangsa dan bernegara dipenuhi intrik politik yang menjadi konsumsi pembicaraan mulai dari pimpinan pemerintahan saat itu hingga kalangan rakyat jelata. Akibatnya pola pergaulan masyarakat menjadi tidak harmonis karena teribat dalam sikap pro dan kontra terhadap situasi politik saat itu.

Melihat situasi kehidupan sosial tidak lagi menjadikan masyarakat hidup nyaman dan tenang tanpa ikut berpikir dalam pergulatan politik, sekawanan pemuda yang berlatar seni dan aktif dalam berbagai organisasi massa menyatukan persepsi dan berobsesi menciptakan suasana baru dalam tatanan kehidupan sosial di Kabupaten Rembang.

Berdirinya Siradar

Mereka adalah BM Ridwan yang akrab dipanggil Bang Muh mewakili ormas Pemuda Muhammadiyah, As’ad dari IPPNU, Musta’in dari PNI, Hendro Sukanto dari Gerakan Angkatan Muda Kristen dan Tan Bi Lung dari Pemuda Katholik. Dalam setiap perjumpaan dan diskusi yang mereka lakukan selalu  manggagas satu kegiatan positif yang dapat memberikan hiburan bagi masyarakat tanpa membatasi hal –hal yang berkaitan dengan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan ( SARA ) dan bebas dari kepentingan politik apapun.

Dalam satu pertemuan penting sekitar tahun 1967 di rumah milik BM Ridwan, Jalan Veteran no 18, desa Leteh, Kecamatan Rembang, akhirnya diputuskan bentuk hiburan bagi masyarakat akan mereka lakukan melalui sarana radio. Mereka beranggapan dan berpendapat dengan memberikan hiburan melalui siaran radio, orang akan terhibur dan mengurangi kejenuhan akibat konflik politik yang berkepanjangan.

Segera setelah izin diurus ke Korem dengan bantuan Pasi 5 Kodim Rembang, Letnan Zaenudin dan seorang aparat Polres Rembang, Edi Lasapu, diberikan call sign ( nama panggil radio di daerah setempat yang dikeluarkan pihak militer saat itu ) dengan kode YDA7C1 bernama Siaran Radio Daerah Rembang / SIRADAR. Hanya saja setelah izin dimiliki, mereka bingung karena belum memiliki sarana dan prasarana untuk siaran.

Saat keluhan tersebut disampaikan kepada ‘lurah pondok’ sekitar, ( pondok pesaantren Raudhlatut Thalibin, Leteh, Rembang, milik KH Bisri Mustofa ) bernama Hamdan, disikapi olehnya dengan memesankan pemancar dari seorang kenalannya di Purworejo bernama Cipto. Sekitar dua minggu dalam penantian akhirnya pemancar datang juga ke Rembang dan siaran perdana dilakukan dari sekterariat Jalan  Veteran no 18.

Kali pertama siaran, BM Ridwan Atau Bang Muh, Masta’in dan As’ad bertugas sebagai penyiar sedangkan Hendro Sukanto sebagai teknisi. Siaran dilakukan sepulang bekerja (mereka berstatus  pegawai negeri), mulai pukul 17.00 – 23.00 WIB. Dengan materi acara utama hiburan, memutar aneka lagu dari piringan hitam, sumbangan dari donatur. Siradar mengudara dengan gelombang Short Wave ( SW ) posisi 3,8 Mhz. Jangkauan siaran melliputi kecamatan Rembang kota, Lasem, Sulang, Sumber dan Kaliori.  Adapun susunan organisai Siaradar, Ketua Letnan Zaenudin; Wakil Ketua  Edi Lasapu, Sekretaris BM Ridwan, Bendahara  Khamidah dan Kepala penyiaran  BM Ridwan

Setelah Siradar mulai mengudara, masyarakat mulai merasakan ada yang lain dalam kehidupan sosial, mulai merasa terhibur dan sedikit demi sedikit melupakan pergolakan politik yang banyak menyita waktu mereka. Animo masyarakat mulai tumbuh dan banyak yang berdatangan ke ‘studio mini’ di Jalan veteran 18, mencari tahu cara kerja radio sekaligus berkenalan dengan para penyiar. Dalam perjalanan berikutnya SIRADAR pindah ke lingkungan Pondok Pesantren Rhaudlatut Thalibin Pimpinan KH Bisri Mustofa

Dalam perkembangannya, nama Siradar mulai dikenal dan setiap kali mengudara, banyak penggemar acara (fans) berkunjung ke studio. Pada tahun 1970 SIRADAR pindah ke salah satu ruang di kantor pendaftaran tanah (sebelah barat Taman Rekreasi Pantai Kartini).Menempati studio baru, inovasi mulai dilakukan pengelola dengan menambah penyiar baru, diantaranya, Siti Mundiyah, Wiwik Mugiwiyono, Susilowati Retnowati, Zuhdi dan Wuryani. Adapun materi siaran berkembang dengan menyiarkan secara langsung atau live kegiatan anak-anak TK dan hiburan rakyat ( kethoprak ).

Selain memutar lagu-lagu melalui piringan hitam, studio juga memutar lagu dalam bentuk kaset dimana kaset dan tape recorder merupakan sumbangan salah satu fans setia. Sehingga lagu-lagu yang saat itu sedang nge-hits di Jakarta dapat disimak pendengar di Rembang, pendek kata SIRADAR mampu bersaing dengan radio dari daerah lain di Jawa tengah.

Lagu –lagu favorit saat itu diantaranya, Gang Kelinci yang dilantunkan Lilis Suryani; Pasangan Titik Sandhora-Muksin, dengan lagunya Mengapa Harus Menangis dan Merantau dan lagu hits lain dari penyanyi Rahmat Kartolo, Titik Puspa dan The Gembels.

Pengelola Siradar mengajukan permohonan ke Kodim Rembang agar diberikan izin menempati salah satu ruang di Koramil Rembang, Jalan Pemuda (jalan raya Rembang-Blora) yang posisinya agak tinggi dari permukaan laut, agar kualitas siaran kembali menjangkau wilayah seperti semula. Permintaan dipenuhi, diberikan tempat di belakang Koramil. Pindah ke tempat baru tersebut sekitar tahun 1970 akhir. Masih dalam jam siar sama dan gelombang yang sama pula, Siradar kembali menyapa pendengar di wilayah kecamatan Lasem, Sumber, Kaliori, Sulang dan sekitarnya.

Berkutat dengan problem lama, terbatasnya ruang sehingga saat menampilkan acara live tidak cukup tempat dan mengganggu kantor Koramil yang berada di depan studio, tahun 1972 pengelola kembali mengajukan permohonan pindah tempat ke Kodim. Oleh Kodim  diberikan tempat di gedung Pusat Kebudayaan Angkatan Bersenjata / PUKAB (sekarang Balai Manunggal, sebelah timur KODIM 0720 / Rembang .

Berdirinya RSPD Rembang

Menempati tempat baru di gedung PUKAB / selama kurang lebih 3 tahun merupakan masa kejayaan sekaligus era akhir Siradar. Puluhan lagu-lagu hits baru koleksi studio menjadi wahana hiburan tersendiri bagi warga Rembang dan sekitarnya. Acara “Pilihan Pendengar” (Red: semacam request lagu) waktu itu dilakukan dengan membeli “Kartu Pilihan Pendengar” yang disediakan pohak radio di toko “PING”.

Pada tahun 1975, pemerintah kabupaten Rembang dibawah pimpinan Bupati Rembang saat itu, Drs Suharyono merencanakan  berdirinya satu studio sebagai Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Rembang dan telah diterbitkan Peraturan Daerah/Perda-nya.

Keinginan pendirian RSPD oleh pemkab Rembang, disikapi oleh pelopor dan pendiri Siradar dengan memeberikan usul agar tidak membuat stasiun radio baru melainkan meneruskan siaran Siradar saja. Dari sikap legowo yang ditunjukkan para pendiri tersebut, akhirnya pemkab memutuskan meneruskan Siradar untuk dialih kelola, dikembangkan menjadi RSPD.

Lokasi RSPD kali pertama berada di komplek Rumah Dinas Bupati Rembang, di samping kantor Kwartir Cabang Pramuka Rembang. Radio RSPD kali pertama dibawah pengelolaan Bagian Umum dan Protokol, dengan pimpinan baru H Moch Minhad.

Pembenahan dilakukan untuk menyempurnakan kualitas siaran RSPD, mulai dari permindahan gelombang ke 1425 AM, pergantian pemancar, jam siar (05.00 – 15.00 WIB  dilanjutkan 17.00 – 23.00 WIB ) dan penambahan penyiar. Adapun nama penyiar RSPD Rembang antara lain  S.Parman, Prayitno, Maemunah, Anggorowati, Sumardi, Ipung Masudi, Emy Ambarwati, Heruwati, Sulistyowati, Ali ridho, Kadarwati, Winaryu Kutsiyah, dan Bambang Nurtejo. Teknisi Suwardi, Suwarno, dan Yoyok. Operator Harsono dan R Bismo Risdyowibowo.

Era 80-an

Acara-acara yang populer waktu itu antara lain Pantun Joged, Tangga Lagu-lagu Dangdut,  Kontak Monitor, Syair dan Lagu, Siraman Rokhani Islam,  Rama Sinta, Ramalan Bintang, serta Musik Pelepas Lelah (MPL) dengan penyiar Maemunah dan Solistyowati yang banyak memutar lagu-lagu era 80-an seperti Lagu Gelas-gelas kaca-Nia Daniati, Hati Seorang Wanita-Betharia Sonata, Senandung Doa-Nur Afni Oktavia, Antara Benci dan Rindu- Ratih Purwasih, Madu dan Racun Ari Wibowo, dan lagu-lagu karya A Riyanto, Rinto Harahap, Bimbo, Pance Pondaag,  dan Obie Mesakh.  Juga lagu-lagu Dandut seperti Piano Rhoma Irama, Pandangan Pertama A Rafik, dan Anak Pak Lurah Mansyur S.

Selain itu RSPD Rembang juga menyiarkan hiburan ketoprak seperti Ketoprak Saptamandala Kodam IV Diponegoro (sekarang Kodam VII), Ketoprak Sri Kencono Pati, Wayang Kulit, Sandiwara Radio Seperti “Pelangi Di Langit Singasari”, “Mahesa Jenar”, dan sandiwara misteri yang hingga kini masih melekat di hati para penggemarnya waktu itu yakni “ Trinil”. Untuk pemberitaan, RSPD Rembang  menyiarkan berita Nasional maupun berita regional RRI, dan berita daerah yang dihimputan dari Tim liputan maupun kerja sama dengan para Juru Penerang di setiap kecamatan

Berdirinya Radio CB Fm

RSPD Kabupaten Rembang  beroperasi  sampai dengan Tahun 2003, ditengah kondisi yang sulit karena persaingan dengan Radio Swasta. Oleh karena itu untuk bisa bersaing dengan Radio Swasta keluarlah SK Bupati pda Bulan Oktober Tahun 2003 tentang perubahan dari RSPD ke Radio Citra Bahari FM, pada saat kepemimpinan Bupati H. Hendarsono, Kabag Humas Chairul Anwar S. Sos, Kasubag Kajian dan Informasi Maryono Utomo dan Operasional Radio dipimpin oleh Kukuh Purwasana, S.Sos

Kini,   dibawah kepemimpinan Bupati Rembang H Moch Salim, Radio Citra bahari FM(CB FM) dipimpin Kepala Bagian Humas Moch. Daenuri Spd SH MM sebagai General Manajer, Subekti sebagai manajer Operasional, Sudharmaji S Sos sebagai manajer pemberitaan dan Shofwan Haryono BA sebagai Manajer Pemasaran.

Sekali Di Udara Tetap di Udara,

Jayalah Radio Citra Bahari FM Rembang

Dirgahayu Radio CB FM Rembang Info Station