Tag Archives: Batik

Buruh Batik Jadi Pengusaha Batik

Bu win (oranye) sedang memilih batik untuk dikerjakan karyawannya di rumah masing-masing

Bu win (oranye) sedang memilih batik untuk dikerjakan karyawannya di rumah masing-masing

Kerja keras, keuletan dan diiringi doa akan membuahkan hasil, seperti yang dialami oleh salah satu pengusaha batik yang tinggal di desa Babagan Lasem. Sri Winarti (39) berhasil membuktikan dari buruh batik ia berhasil menjadi pengusaha batik.

Sejak tahun 1993, Ia bersama saudara dan orang tuanya bekerja sebagai buruh batik di pengusaha batik tulis Lasem ”kuda” atau sekarang lebih dikenal sebagai batik “Purnomo”..

Dari situlah kemampuan membatik diperolehnya, kemudian pada tahun 2010 melalui program PNPM desa Babagan ia memperoleh pengetahuan pengetelan (mencuci kain) dari almarhumah Naomi pemilik batik maranantha yang kemudian diteruskan oleh Rifai pemilik batik “Ningrat”.

Di tahun yang sama istri dari Kunardi itu bersama rekan-rekannya memperoleh pelatihan pewarnaan di Pekalongan dimana seluruh biaya pelatihan ditanggung oleh Pemkab Rembang.

Setelah merasa pengetahuan tentang membatik komplit ia mencoba memberanikan diri membuat batik sendiri.

“Saya masih ingat awalnya 13 potong kain batik, setelah laku terjual saya belikan 20 potong kain,” kenangnya

Pada akhir tahun 2010, semula ia hanya ingin melihat pasar pameran batik di jakarta. Dengan modal Rp 3 juta untuk sewa stan dan Rp 1 juta untuk transportasi, ia membawa 50 potong kain batik ditambah beberapa potong batik hasil titipan dari teman-temannya.

Ternyata respon diperoleh sangat bagus, dagangan ludes dan ia pulang membawa uang Rp 40 juta. Sejak saat itu ibu dari dua orang anak itu rajin mengikuti berbagai pameran di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta dan Semarang.

Pada pameran inacraf tahun ini ia memperoleh kesempatan bersalaman dan berdialog dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta ibu Ani.

Selain pameran ia juga menerima pesanan dari beberapa wilayah di Indonesia, bahkan dari sebuah bank milik pemerintah ia mendapat pesanan batik dari luar negeri seperti Belanda, Kanada dan Singapura.

Batik termahal yang pernah ia jual juga dibeli oleh pembeli dari luar negeri yakni pembeli dari Thailand dan Tiongkok seharga Rp 4 juta/lembar yaitu batik tiga negeri motif sekar jagad.

Kini hanya dalam tempo 4 tahun ia telah berkembang, karyawan yang membantunya di batik tulis Lasem ”sumber rejeki” dirumahnya yang terletak di desa Babagan Kecamatan Lasem ada 30 orang, upah mereka rata-rata perhari Rp 20 ribu-30 ribu, belum termasuk karyawan borong yang membatik dirumah masing-masing.

Selain memperkerjakan orang ia juga mengajak tetangga sekitarnya untuk ikut membatik dan menerima titipan hasil batik mereka untuk ia pasarkan. Bersama rekan-rekannya itu ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Babagan.

Dalam satu bulan jumlah kain batik yang ia produksi mencapai 1000 potong kain batik siap jual.

“Dalam satu bulan penjualan batik milik KUB bervariasi antara Rp 20 juta-50 juta,” tutur Bu win panggilan akrabnya.

Kesuksesan tak membuatnya lupa, usai dari pameran ia memberi masing-masing anggota KUB dua lembar kain untuk dibatik dari kantong pribadinya. “Untuk memotivasi mereka agar lebih rajin membatik,” ungkapnya

Ilmu yang dimilikinyapun tak jarang dibagi secara gratis seperti beberapa tamu dari langkat, sumatera utara, Jakarta atau daerah sekitar yang ingin belajar membatik. Ada beberapa tamu yang terpaksa menginap di homestay rumah-rumah penduduk guna belajar proses membatik.

Ia juga sering diundang untuk memberikan pelatihan baik membatik atau pewarnaan.

Sekarang ia ingin belajar mengekspor batiknya ke manca negara secara langsung hanya saja baru teori yang ia dapat, prakteknya belum pernah ia lakukan.

Selain itu harapannya untuk memajukan KUB-nya Bu win ingin kelompoknya mendapat bantuan hibah kain batik.

“Semoga tahun depan bisa dapat bantuan kain, agar lebih memotivasi pengrajin yang masih kecil-kecil untuk lebih produktif,” harapnya.

Iklan

Tuntaskan Program Desa Wisata Batik

Pembangunan Gapura selamat datang dan Showroom batik di Desa Babagan Lasem hanya berjarak beberapa meter dari jalan pantura

Pembangunan Gapura selamat datang dan Showroom batik di Desa Babagan Lasem hanya berjarak beberapa meter dari jalan pantura

Pemerintah Kabupaten Rembang sampai saat ini terus menuntaskan program pembangunan desa wisata batik yang mengintegrasikan lima desa yakni Desa Babagan dan Desa Karas Gede, Kecamatan Lasem serta Desa Karas Kepoh, desa Tuyuhan dan Desa Pancur, Kecamatan Pancur.

“Saat ini baru menyelesaikan pembangunan gapura pintu masuk di desa Babagan serta pemasangan lampu-lampu, rencananya akan disusul pembangunan showroom batik tulis,” tutur Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang H. Hamzah Fatoni SH MKn.

Dipilihnya Desa Babagan Kecamatan Lasem sebagai pintu masuk desa wisata batik tidak lepas dari letak desa tersebut yang berada tepat dipinggi jalan pantura sehingga memudahkan bagi wisatawan yang melintas untuk mengenalinya.

Rencananya rute yang dilalui oleh para pelancong berawal dari Desa babagan – Desa Karas Gede – Desa Karas Kepoh – Lewat Jembatan Gantung – Desa Tuyuhan dan kemudian di Dusun Ngropoh Desa Pancur.

Dengan rute ini maka pelancong akan melintasi empat desa wisata kampung batik tulis Lasem yakni Babagan, Karasgede, Karaskepoh dan Dusun Ngropoh Desa Pancur serta satu desa wisata kuliner yaitu Desa Tuyuhan.

“Diharapkan wisatawan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis lasem dari hulu sampai hilir dan jika menginginkan mereka juga dapat langsung belajar kepada pengrajin,” kata Sekda.

Sekda mengakui saat ini pembangunan Desa Wisata Batik Tulis Lasem baru memfokuskan pada pembangunan dan penataan sarana dan prasarana. Seperti penataan homestay dan outlet-outlet batik pengrajin. Sedangkan pembangunan jalan masih menunggu. Kedepan juga akan dibangun showroom yang difungsikan untuk museum batik tulis lasem.

Untuk mempercepat pembangunan desa wisata, Pemkab Rembang menggandeng beberapa perbankan nasional untuk ikut mendanai pembangunan seperti pembuatan gapura dan showroom serta memberikan kredit lunak bagi pengrajin yang ingin mengembangkan usaha.

Untuk pelatihan – pelatihan bagi pengrajin juga terus dilaksanakan melalui dinas terkait seperti Dinperindagkop dan UMKM serta BPMPKB, selain itu pengrajin batik tulis lasem juga diajak study banding ke beberapa daerah penghasil batik seperti Solo dan Pekalongan.

Meskipun belum sempurna beberapa wisatawan telah mengunjungi desa wisata batik seperti belum lama ini tamu dari Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatra Utara dan Himpunan Ratna Busana (HRB) Cabang Solo menginap di rumah Sri Winarti pengrajin batik “sumber rejeki” dari Desa Babagan Lasem.

Sekda menegaskan program desa wisata batik mempunyai tujuan untuk melestarikan, mempromosikan dan mengembangkan batik tulis lasem sehingga hal itu akan memberikan motivasi bagi para pengrajin untuk meningkatkan kreatifitas dan kualitas produk yang pada akhirnya akan meningkatkan ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah.

“Desa Wisata Batik juga akan menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Rembang,” harap Sekda.

Si Pendatang Baru, Batik Tulis Dewi Intan

Kebijakan Pemkab Rembang untuk menggunakan seragam batik bagi pegawai negeri sipil (PNS) dilingkungan pemkab Rembang setiap hari rabu s/d jum’at membuat peluang usaha batik khususnya batik tulis lasem di Kabupaten Rembang semakin prospektif.

Hal tersebut membuat ibu Robisah berani membuat kerajinan batik tulis dengan merek dagang Dewi Intan. Sebelumnya warga desa pohlandak kecamatan Pancur ini berprofesi sebagai penjual makanan kecil dan menawarkan batik milik salah satu pengusaha batik didesa pohlandak yang sudah lebih dulu terkenal ditiap-tiap instansi.

Melihat animo peminat batik yang cukup tinggi Robisah memberanikan diri untuk membuat batik sendiri walaupun tidak memiliki keterampilan dasar membuat batik. Setelah lebaran tahun 2010 Robisah membeli kain dua lembar dan mulai membatik dengan meniru corak-corak yang sudah ada dan ternyata batik yang dia buat disukai oleh pelanggannya. Sejak saat itu Robisah mulai membuat batik sendiri dengan merek dagang Dewi Intan.

Soal kualitas Robisah berani menjamin selain itu untuk motif yang dibuatnya sudah mulai beragam seperti corak mega mendung dengan motif naga, aseman, sekar jagad, bledak miring dan lain-lain. ”Harga batik yang saya jual mulai dari harga Rp 90 ribu-Rp 350 ribu,” ujar Robisah.

Untuk pemasarannya, Robisah langsung menawarkan ke pembeli di kantor-kantor mulai dari Kragan, Rembang dan Pati selain diambil oleh bakul (pedagang) lain.

Dia berharap produknya semakin dikenal oleh masyarakat luas melalui ajang pameran Rembang Expo yang diselenggarakan tiap tahun oleh Pemkab Rembang.

Santoso, Pelestari Batik Lasem

Motif Belanda

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Rembang yang mewajibkan penggunaan batik sebagai seragam merupakan salah satu faktor penggerak kebangkitan batik tulis lasem yang sempat terpuruk. Hal tersebut diakui Santoso pemilik batik merek pusaka beruang ketika ditemui di showroomnya di desa karang turi Kecamatan Lasem.

Sebelum meneruskan usaha batik orang tuanya Santoso bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Setelah sempat merantau ke Jakarta, Santoso pulang ke Lasem untuk meneruskan usaha yang pernah di rintis keluarganya yaitu membuat batik tulis Lasem. Santoso mengaku saat pertama membuat batik, hampir satu lemari kain yang telah di batik sobek karena salah dalam perlakuannya.

Namun setelah mendapat pelatihan batik yang diselenggarakan Dinas Perindagkop dan UMKM Kabupaten Rembang  Santoso mengaku mengetahui cara pewarnaan batik yang benar dan dapat mengembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Saat ini Santoso memiliki ratusan karyawan padahal ketika memulai usahanya pada tanggal 13 Mei 2005 dia hanya memiliki empat orang karyawan. “Pekerjaan karyawan bersifat borongan dengan upah Rp 20.000 sampai Rp 35.000,- per hari,” ujar Santoso.

Selain itu dengan bekerjasama dengan salah satu bank nasional milik pemerintah karyawan batik santoso diberi kredit ringan untuk dapat mengembangkan diri. “Pemberian kredit ini bertujuan agar buruh (karyawan) batik dapat lebih sejahtera, salahsatunya dengan dibelikan hewan ternak sehingga pendapatan buruh tidak dari membatik saja tapi juga dari bidang lain,” harap Santoso.

Hal lain yang dilakukannya adalah mendirikan Kampung Batik di Desa keropoh Kecamatan Pancur. Ketika sore hari kita ke perkampungan batik tersebut dapat kita temui banyak ibu-ibu yang membatik didepan rumah mereka. “Kita sudah memiliki wisata kuliner lontong tuyuhan yang letaknya tidak jauh dari kampung batik ini, semoga saja kedua hal ini (wisata kuliner dan kampung batik-red) dapat digabung,” kata Santoso.

Terkait dengan motif batik Lasem sekarang ini, Santoso mengatakan Batik Tulis Lasem sudah berkembang dan tidak tergantung kepada beberapa motif saja. Selain itu dia juga mereproduksi batik-batik jaman dahulu seperti batik belanda, namun diakui Santoso untuk pewarnaan ada beberapa warna yang tidak dapat dimunculkan kembali.

Usaha yang telah dilaksanakan Santoso menuai hasil yang bahkan tidak dibayangkan olehnya, salahsatunya penghargaan upakarti dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2010.

BATIK LASEM: CAMPURAN KEBUDAYAAN JAWA DAN CINA

Nyanting

Secara umum Batik di tanah jawa di bagi menjadi dua golongan besar yaitu batik dari pesisiran salah satunya adalah batik Lasem, Cirebon, Tuban dan sebagainya. Batik pesisiran dipengaruhi oleh budaya asing hal ini disebabkan karena banyaknya orang asing yang singgah dipelabuhan. Golongan yang ke dua adalah batik dari kerajaan contohnya adalah batik Solo, Jogja, Banyumas dan sebagainya. Batik ini tidak mendapat pengaruh dari asing, demikian menurut Sigit Wicaksono salah seorang pengusaha dan pengamat batik Lasem.

Menurutnya, kebudayaan Cina paling banyak berpengaruh pada Batik Lasem. Sebagai contoh motif yang dipengaruhi oleh kebudayaan cina adalah motif yang menggunakan gambar burung hong dan pokok – pokok pohon bambu. Menurut kepercayaan Cina pohon bambu melambangkan kerukunan keluarga yang kuat.

Selain itu beliau menjelaskan Batik Lasem mempunyai 2 (dua) corak khas yaitu : Latohan dan watu pecah. Motif Latohan terinspirasi dari tanaman latoh (sejenis rumput laut) yang menjadi makanan khas masyarakat lasem sedangkan motif watu pecah menggambarkan kejengkelan masyarakat Lasem sewaktu pembuatan jalan Daendeles yang memakan banyak korban.

Hal senada juga diungkapkan oleh ibu H. Umy Jazilah Salim selaku ketua Dekranasda Rembang. Beliau mengatakan motif batik lasem banyak dipengaruhi oleh motif kebudayaan cina dengan motif – motif burung hong, naga dan lain – lain.

Melestarikan Batik

Beliau juga mengatakan untuk melestarikan Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia seperti yang ditetapkan oleh UNESCO 2 Oktober 2009, seluruh karyawan Pemkab Rembang diwajibkan menggunakan pakaian Batik setiap hari kamis dan jum’at. Hal lain untuk mempromosikan batik adalah dengan mendirikan showroom batik dan showroom dekranasda. Beliau mengharapkan dengan berdirinya showroom – showroom ini dapat membantu pengrajin batik untuk memamerkan produknya. Selain itu Kerajinan Seni Batik juga dimasukkan dalam kurikulum mulok (muatan lokal) SLTA yang berpusat di showroom batik Lasem.

Sedangkan menurut Kepala Dinas Indakop dan UMKM Bapak Drs H Waluyo MM, pihaknya akan terus mengupayakan untuk melestarikan Batik Lasem. Deprindakop dan UMKM bekerjasama dengan dekranasda memfasilitasi para pengrajin untuk mengikuti event – event batik nasional, seperti event yang diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) belum lama ini dan pameran yang diselenggarakan oleh UNESCO awal bulan Oktober. Waluyo juga menjelaskan pihaknya akan mengadakan pameran batik lasem setiap beberapa tahun sekali di kota – kota besar Indonesia seperti Semarang, Jakarta atau diluar jawa bahkan bila memungkinkan mengikuti eksibisi diluar negeri seperti singapura. Selain itu beliau juga mengusulkan kepada Bupati Rembang melalui Sekda Rembang untuk mendirikan museum batik lasem supaya semua kegiatan batik di Lasem dan sekitarnya dapat didokumentasikan dengan baik dan sekaligus menjaga agar kultur batik Lasem tidak lepas dari generasi ke generasi.

Rembang Raih Penghargaan Batik dari Mendiknas

Langkah dan kebijakan Bupati Rembang untuk menjaga kelestarian budaya bangsa dengan menerapkan pelajaran ekstrakurikuler membatik di sekolahan mendapat penghargaan dari Pemerintah Pusat. Bupati Rembang H.Moch.Salim menerima penghargaan tersebut dari Menteri Pendidikan Nasional dalam acara pembukaan pameran Gelar Batik Nusantara (GBN) ke-6 tahun 2009 di Assembly Hall, Jakarta Convention Centre (JCC), Rabu (26/8). Bersama Sembilan Bupati/walikota lainnya yaitu Bupati Cirebon, Walikota Cirebon, Walikota Surakarta, Walikota Yogyakarta, Bupati Bantul, Bupati Pekalongan, Walikota Pekalongan dan Bupati Indramayu yang mendapat penghargaan serupa dianggap peduli terhadap kerajinan batik, karena memasukkan kegiatan membatik ke dalam ekstrakurikuler sekolah.

Acara yang diselengarakan oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) digelar belum lama ini. Dibuka oleh Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono selaku penasehat Dekranas Jakarta. Pemberian penghargaan ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi YBI dalam memasukkan permohonan nominasi agar “Batik Indonesia” mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda “Intangible Culture Heritage” dari UNESCO.

Dalam acara tersebut Kabupaten Rembang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Perindakop dan UMKM bekerja sama dengan Dekranasda Kabupaten Rembang memfasilitasi pengrajin Batik untuk mengikuti event Gelar Batik Nusantara (GBN) tahun 2009 dengan memberangkatkan 11 pengrajin/pengusaha batik dengan fasilitas 2 stand.

Selain memasukkan batik dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah – sekolah Pemerintah Kabupaten Rembang juga mendirikan showroom batik di Lasem dan memfasilitasi para pengrajin / pengusaha batik untuk mematenkan corak atau motif batik khas Kabupaten Rembang dalam komitmennya menjaga batik sebagai budaya bangsa. Hal lain yang sedang dalam wacana Pemerintah Kabupaten Rembang untuk lebih mengenalkan batik kepada masyarakat adalah mendirikan museum batik.

BATIK TULIS LASEM

Batik_tulis_lasem

Batik merupakan salah satu warisan budaya di Indonesia. Keunikan dan cara pembuatan yang khas membuat batik sangat digemari oleh wisatawan baik dari dalam negeri maupun manca negara, bahkan akhir – akhir ini banyak negara luar yang meniru bahkan mengklaim bahwa corak batik tertentu adalah milik mereka.

Seperti halnya daerah lain di Indonesia, Kabupaten Rembang juga mempunyai warisan nenek moyang satu ini. Batik tulis Lasem begitu orang menyebutnya. Ciri khas dari batik tulis Lasem adalah motif pesisiran dengan corak yang unik yaitu warna dominan adalah merah dan biru. Berbagai motif juga sudah dikembangkan untuk menambah corak, warna dan keunikan batik tulis Lasem diantaranya adalah Motif Naga Kricak, Selendang sekar jagat Violet, Lerek gunung ringgit letohan dan masih banyak lagi motif – motif lainnya.

Sentra batik tulis Lasem terdapat di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Lasem dan Pancur jumlah unit usaha mencapai 1.175 unit usaha dan dapat mencakup 1.596 orang tenaga kerja dengan kapasitas produksi mencapai 38.938 potong per tahun. Untuk melihat – lihat atau membeli batik tulis Lasem anda tidak perlu mengunjungi satu per satu tempat kerajinan tersebut cukup anda ke Show room Batik Tulis Lasem Kabupaten Rembang yang terdapat di bekas kantor kecamatan Lasem Jl. Raya Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang anda dapat melihat hampir seluruh koleksi batik tulis Lasem. (DN)