Tag Archives: Lasem

Buruh Batik Jadi Pengusaha Batik

Bu win (oranye) sedang memilih batik untuk dikerjakan karyawannya di rumah masing-masing

Bu win (oranye) sedang memilih batik untuk dikerjakan karyawannya di rumah masing-masing

Kerja keras, keuletan dan diiringi doa akan membuahkan hasil, seperti yang dialami oleh salah satu pengusaha batik yang tinggal di desa Babagan Lasem. Sri Winarti (39) berhasil membuktikan dari buruh batik ia berhasil menjadi pengusaha batik.

Sejak tahun 1993, Ia bersama saudara dan orang tuanya bekerja sebagai buruh batik di pengusaha batik tulis Lasem ”kuda” atau sekarang lebih dikenal sebagai batik “Purnomo”..

Dari situlah kemampuan membatik diperolehnya, kemudian pada tahun 2010 melalui program PNPM desa Babagan ia memperoleh pengetahuan pengetelan (mencuci kain) dari almarhumah Naomi pemilik batik maranantha yang kemudian diteruskan oleh Rifai pemilik batik “Ningrat”.

Di tahun yang sama istri dari Kunardi itu bersama rekan-rekannya memperoleh pelatihan pewarnaan di Pekalongan dimana seluruh biaya pelatihan ditanggung oleh Pemkab Rembang.

Setelah merasa pengetahuan tentang membatik komplit ia mencoba memberanikan diri membuat batik sendiri.

“Saya masih ingat awalnya 13 potong kain batik, setelah laku terjual saya belikan 20 potong kain,” kenangnya

Pada akhir tahun 2010, semula ia hanya ingin melihat pasar pameran batik di jakarta. Dengan modal Rp 3 juta untuk sewa stan dan Rp 1 juta untuk transportasi, ia membawa 50 potong kain batik ditambah beberapa potong batik hasil titipan dari teman-temannya.

Ternyata respon diperoleh sangat bagus, dagangan ludes dan ia pulang membawa uang Rp 40 juta. Sejak saat itu ibu dari dua orang anak itu rajin mengikuti berbagai pameran di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta dan Semarang.

Pada pameran inacraf tahun ini ia memperoleh kesempatan bersalaman dan berdialog dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta ibu Ani.

Selain pameran ia juga menerima pesanan dari beberapa wilayah di Indonesia, bahkan dari sebuah bank milik pemerintah ia mendapat pesanan batik dari luar negeri seperti Belanda, Kanada dan Singapura.

Batik termahal yang pernah ia jual juga dibeli oleh pembeli dari luar negeri yakni pembeli dari Thailand dan Tiongkok seharga Rp 4 juta/lembar yaitu batik tiga negeri motif sekar jagad.

Kini hanya dalam tempo 4 tahun ia telah berkembang, karyawan yang membantunya di batik tulis Lasem ”sumber rejeki” dirumahnya yang terletak di desa Babagan Kecamatan Lasem ada 30 orang, upah mereka rata-rata perhari Rp 20 ribu-30 ribu, belum termasuk karyawan borong yang membatik dirumah masing-masing.

Selain memperkerjakan orang ia juga mengajak tetangga sekitarnya untuk ikut membatik dan menerima titipan hasil batik mereka untuk ia pasarkan. Bersama rekan-rekannya itu ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Babagan.

Dalam satu bulan jumlah kain batik yang ia produksi mencapai 1000 potong kain batik siap jual.

“Dalam satu bulan penjualan batik milik KUB bervariasi antara Rp 20 juta-50 juta,” tutur Bu win panggilan akrabnya.

Kesuksesan tak membuatnya lupa, usai dari pameran ia memberi masing-masing anggota KUB dua lembar kain untuk dibatik dari kantong pribadinya. “Untuk memotivasi mereka agar lebih rajin membatik,” ungkapnya

Ilmu yang dimilikinyapun tak jarang dibagi secara gratis seperti beberapa tamu dari langkat, sumatera utara, Jakarta atau daerah sekitar yang ingin belajar membatik. Ada beberapa tamu yang terpaksa menginap di homestay rumah-rumah penduduk guna belajar proses membatik.

Ia juga sering diundang untuk memberikan pelatihan baik membatik atau pewarnaan.

Sekarang ia ingin belajar mengekspor batiknya ke manca negara secara langsung hanya saja baru teori yang ia dapat, prakteknya belum pernah ia lakukan.

Selain itu harapannya untuk memajukan KUB-nya Bu win ingin kelompoknya mendapat bantuan hibah kain batik.

“Semoga tahun depan bisa dapat bantuan kain, agar lebih memotivasi pengrajin yang masih kecil-kecil untuk lebih produktif,” harapnya.

Lubang Candu di Lawang Ombo

soebagio (paling kiri) bersama Gubernur Ganjar Pranowo melihat Lubang Candu

soebagio (paling kiri) bersama Gubernur Ganjar Pranowo melihat Lubang Candu

Menyusuri Kota Lasem tidak hanya disuguhi oleh kemajuan jaman modern tapi juga banyak tempat yang menggambarkan sisa-sisa kejayaan perdagangan Lasem masa lampau. Salah satunya adalah “Lawang Ombo.” Mengunjungi “Lawang Ombo” seakan kita diajak menembus dimensi waktu yang sangat berbeda dengan sekarang baik dari bentuk fisik bangunan maupun sistem keluar masuk barang perdagangan.

Lawang Ombo adalah komplek bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6000 meter persegi. Bangunan tersebut di kelilingi oleh pagar setinggi satu setengah meter. Pintu gerbang untuk memasuki kawasan tersebut menurut pemilik Lawang Ombo, Soebagio (52), dahulunya terbuat dari kayu, dengan ukuran yang lumayan besar. Dari ukuran tersebutlah nama Lawang Ombo yang dalam bahasa Jawa berarti pintu besar itu lahir. Kini pintu tersebut telah diganti dengan pintu besi dengan ukuran yang lebih kecil.

Pintu utama untuk memasuki bangunan itu berukurang lumayan besar, yakni dengan tinggi sekitar 4 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Pintu berwarna krem tersebut terbuat dari kayu yang cukup tebal, dengan balok kayu sebagai bingkainya. Di sebelah kiri dan kanan pintu itu terdapat jendela yang ukurannya juga lumayan besar, yakin dengan tinggi sekitar 2 meter dengan lebar sekitar 1 meter, dengan tralis kayu sebagai penutupnya. Di pojok timur bagian muka bangunan itu juga terdapat pintu. Di ruangan yang terletak di balik pintu itu lah terdapat lubang Candu itu.

Soebagio mengatakan lubang itu konon digunakan untuk menyeludupkan Candu (Papaver Somniverum). Soebagio menyebutkan dari cerita ibunya, lubang tersebut konon digunakan untuk menyeludupkan candu. Di dasar lubang itu dulunya terdapat lorong besar yang bisa dimuati perahu, dan lorong tersebut tersambung dengan sungai Babagan, yang mengalir di arah barat kompel tersebut, dengan jarak sekitar 20 meter. Kini lorong perahu itu sudah dipenuhi dengan lumpur.

“Tidak cuma lubang saja, jaman dulu peti mati juga digunakan untuk menyeludupkan candu. Jadi peti mati itu bukan diisi orang mati, tapi diisi candu. Peti itu di kawal seluruh keluarga sambil menangis biar polisi tidak curiga,” katanya.

Bangunan tersebut kata dia awalnya di bangun oleh seorang Kapiten Cina bermarga Liem. Ia menduga dirinya adalah keturunan ketujuh dari Kapiten yang juga dikubur di komplek tersebut. Sejak awal bangunan tersebut didirikan, kecuali pintu masuk kawasan tersebut dan bangunan yang dihancurkan tentara Jepang hampir tidak ada yang dirubah.

Bangunan itu sempat diminta oleh Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah diubah sebagai tempat penginapan untuk turis.

Ia menolak dengan halus usul tersebut karena khawatir akan menimbulkan polemik. Di tempat itu kini kerap digelar acara budaya. Soebagio mengaku akan mengizinkan siapapun yang meminjam tempat tersebut tanpa memungut bayaran.

Makam Tan Sin Ko Aset Sejarah Baru Rembang

MakamSatu lagi situs bersejarah di Kecamatan Lasem yang saat ini mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan. Yaitu Makam Tan Sin Ko, salah satu pejuang lokal yang dahulunya sering disebut Singseh oleh masyarakat sekitar makam yang terletak di desa Dorokandang.

Belum lama ini makam Tan Sin Ko juga ramai didatangi rombongan keturunan Raden Mas Said (Mangkunegara I Keraton Solo) dan warga Tionghoa yang sebagian besar merupakan warga Lasem yang tinggal di jakarta (Pawala). Mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dihadapan Makam.

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Ernantoro saat ditemui di rumahnya menceritakan bahwa Tan Sin Ko adalah salah satu pemimpin ribuan pasukan Tionghoa yang ikut mengusir Kompeni Belanda di Semarang dan wilayah Rembang – Lasem bersama pasukan pribumi yang dipimpin putra Mantan Bupati Lasem Raden Panji Margono dan Bupati Lasem Widyaningrat atau Oey Ing Kiat pada tahun 1741.

“Tidak hanya itu, Tan Sin Ko juga ikut berperang melawan VOC di Demak, Grobogan, Kudus, Pati dan Juwana bersama Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyowo)”.tambahnya

Pada bulan Oktober 1742 Tan Sin Ko akhirnya gugur saat bertempur melawan VOC di pantai Lasem, kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dimakamkan di dukuh Narukan Desa Dorokandang.

Makam Tan Sin Ko yang belum lama ini ditemukan dalam kondisi tidak terawat, sekarang sudah direhab. Ke depan diprediksi akan semakin banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan. Pasalnya Fokmas bersama Pawala tengah memperjuangkan Tan Sin Ko agar mendapat status sebagai Pahlawan Nasional.

“Rencananya dalam waktu dekat di area makam Tan Sin Ko juga akan dibangun patung Tan Sin Ko.“ ungkap Toro.

Sementara Kepala Desa Dorokandang, Drs. Kasmunik saat menanggapi perkembangan makam Tan Sin Ko yang ada wilayah desanya mengaku sangat mendukung, namun pihaknya menyarankan agar akses jalan menuju  makam dapat diperbaiki,sehingga peziarah nyaman ketika masuk area pemakaman.

Masyarakat yang haus akan wisata sejarah sekarang ini, diyakini membuat banyak orang yang ingin mengetahui lebih jauh lagi situs-situs sejarah, termasuk yang ada di Kabupaten Rembang. Apalagi dari pantauan Bangkit masyarakat Lasem bersama Fokmas sejauh ini mempunyai semangat yang sama, yaitu semangat ingin memajukan, mengembangkan potensi wisata yang ada di Kecamatan dengan sebutan Tiongkok Kecil ini.

Si Pendatang Baru, Batik Tulis Dewi Intan

Kebijakan Pemkab Rembang untuk menggunakan seragam batik bagi pegawai negeri sipil (PNS) dilingkungan pemkab Rembang setiap hari rabu s/d jum’at membuat peluang usaha batik khususnya batik tulis lasem di Kabupaten Rembang semakin prospektif.

Hal tersebut membuat ibu Robisah berani membuat kerajinan batik tulis dengan merek dagang Dewi Intan. Sebelumnya warga desa pohlandak kecamatan Pancur ini berprofesi sebagai penjual makanan kecil dan menawarkan batik milik salah satu pengusaha batik didesa pohlandak yang sudah lebih dulu terkenal ditiap-tiap instansi.

Melihat animo peminat batik yang cukup tinggi Robisah memberanikan diri untuk membuat batik sendiri walaupun tidak memiliki keterampilan dasar membuat batik. Setelah lebaran tahun 2010 Robisah membeli kain dua lembar dan mulai membatik dengan meniru corak-corak yang sudah ada dan ternyata batik yang dia buat disukai oleh pelanggannya. Sejak saat itu Robisah mulai membuat batik sendiri dengan merek dagang Dewi Intan.

Soal kualitas Robisah berani menjamin selain itu untuk motif yang dibuatnya sudah mulai beragam seperti corak mega mendung dengan motif naga, aseman, sekar jagad, bledak miring dan lain-lain. ”Harga batik yang saya jual mulai dari harga Rp 90 ribu-Rp 350 ribu,” ujar Robisah.

Untuk pemasarannya, Robisah langsung menawarkan ke pembeli di kantor-kantor mulai dari Kragan, Rembang dan Pati selain diambil oleh bakul (pedagang) lain.

Dia berharap produknya semakin dikenal oleh masyarakat luas melalui ajang pameran Rembang Expo yang diselenggarakan tiap tahun oleh Pemkab Rembang.

Santoso, Pelestari Batik Lasem

Motif Belanda

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Rembang yang mewajibkan penggunaan batik sebagai seragam merupakan salah satu faktor penggerak kebangkitan batik tulis lasem yang sempat terpuruk. Hal tersebut diakui Santoso pemilik batik merek pusaka beruang ketika ditemui di showroomnya di desa karang turi Kecamatan Lasem.

Sebelum meneruskan usaha batik orang tuanya Santoso bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Setelah sempat merantau ke Jakarta, Santoso pulang ke Lasem untuk meneruskan usaha yang pernah di rintis keluarganya yaitu membuat batik tulis Lasem. Santoso mengaku saat pertama membuat batik, hampir satu lemari kain yang telah di batik sobek karena salah dalam perlakuannya.

Namun setelah mendapat pelatihan batik yang diselenggarakan Dinas Perindagkop dan UMKM Kabupaten Rembang  Santoso mengaku mengetahui cara pewarnaan batik yang benar dan dapat mengembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Saat ini Santoso memiliki ratusan karyawan padahal ketika memulai usahanya pada tanggal 13 Mei 2005 dia hanya memiliki empat orang karyawan. “Pekerjaan karyawan bersifat borongan dengan upah Rp 20.000 sampai Rp 35.000,- per hari,” ujar Santoso.

Selain itu dengan bekerjasama dengan salah satu bank nasional milik pemerintah karyawan batik santoso diberi kredit ringan untuk dapat mengembangkan diri. “Pemberian kredit ini bertujuan agar buruh (karyawan) batik dapat lebih sejahtera, salahsatunya dengan dibelikan hewan ternak sehingga pendapatan buruh tidak dari membatik saja tapi juga dari bidang lain,” harap Santoso.

Hal lain yang dilakukannya adalah mendirikan Kampung Batik di Desa keropoh Kecamatan Pancur. Ketika sore hari kita ke perkampungan batik tersebut dapat kita temui banyak ibu-ibu yang membatik didepan rumah mereka. “Kita sudah memiliki wisata kuliner lontong tuyuhan yang letaknya tidak jauh dari kampung batik ini, semoga saja kedua hal ini (wisata kuliner dan kampung batik-red) dapat digabung,” kata Santoso.

Terkait dengan motif batik Lasem sekarang ini, Santoso mengatakan Batik Tulis Lasem sudah berkembang dan tidak tergantung kepada beberapa motif saja. Selain itu dia juga mereproduksi batik-batik jaman dahulu seperti batik belanda, namun diakui Santoso untuk pewarnaan ada beberapa warna yang tidak dapat dimunculkan kembali.

Usaha yang telah dilaksanakan Santoso menuai hasil yang bahkan tidak dibayangkan olehnya, salahsatunya penghargaan upakarti dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2010.

Sunan Bonang dan Putri Malokha

Di dalam Kitab Negarakertagama maupun Pararaton tidak disebutkan adanya keturunan Bhre Lasem, hingga tidak dapat diketahui tentang genealoginya. Meskipun demikian ada beberapa Bhre Lasem yang disebut dalam Pararaton, yaitu Kusumawardhani yang dikenal sebagai Bhre Lasem Sang Ahayu (Bhre Lasem yang cantik), Ia adalah putri Hayam Wuruk dari permaisurinya yang bernama Paduka Sori, Putra Bhra Parameswara.
Kusumawardhani menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Wikramawardhana alias Bhra Hyang Wisesa. Wikramawardhana adalah anak Dyah Nittaja, yaitu adik Hayam Wuruk yang kawin dengan Bhre Paguhan yang bernama Singhawardhana. Kemudian ada lagi yang di sebut sebagai Bhre Lasem yaitu Negarawardhani yang dikenal dengan sebutan Bhre Lasem sang Alemu (Bhre Lasem yang gemuk). Ia adalah anak Bhre Pajang yang diperistri oleh Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selir. Setelah itu disebut sebagai Bhre Lasem adalah putri Bhre Wirabhumi.
Dari Pararaton diketahui, Bhre Wirabhumi mempunyai 4 orang anak, yaitu Bhre Pakembangan, Bhre Mataram yang diperistri oleh Bhre Tumapel, dan Bhre Matahun. Lasem yang terakhir dikenal adalah anak Bhre Pandan salas adalah seorang Raja Majapahit yang bergelar Bhre Pandan Salas Byah Suraprabhawa Sri Singhawikra-mawardhana. Setelah itu tidak terdengar kemunduran dan kejatuhan Kerajaan Majapahit pada abad ke-16.
Dewi Indu menurunkan Pangeran Badrawardhana, Pr. Badrawardhana menurunkan Pangeran Wijayabadra, Pr. Wijayabadra menurunkan Pr. Badranala. Ketiga keturunan Dewi Indu ini menjadi Adipati turun temurun di Lasem, serta tetap menempati Keraton Indu di Kriyan.Pr. Badranala kawin dengan Putri Campa yang bernama Bi Nang Ti, menurunkan dua putra, bernama Pangeran Wirabajra dan Pangeran Santibadra.Sepeninggalan Pr.Wirabajra putra pertama, tidak menempati lagi Keraton Kriyan,tetapi pindah menempati bumi Bonang-Binangun,pada tahun Saka 1391 dekat dengan tempat kubur ibunya di Teluk Regol. Sedang Puri Kriyan ditempati Pr. Santibadra beserta istri anaknya hingga keturunannya.
Pangeran Wirabajra Menurunkan Pangeran Wiranagara yang ketika masih kecil sudah belajar agama Rosul (Islam) di Ampelgading. Pada waktu belakangan Wiranagara diambil menantu oleh Maulana Rakhmat Sunan Ampelgading, dijodohkan dengan putrinya yang pertama yang bernama Malokhah. Pr. Wiranagara kemudian menggantikan Ayahnya menjadi Adipati Binangun, menjabat menjadi Adipati baru 5 tahun sudah meninggal, pada tahun Saka 1401; Pemerintahan Kadipaten kemudian dipegang kemudinya oleh putri Malokhah Janda Muda yang masih berusia 28 tahun, ketika itu sudah mempunyai dua putra : yang pertama putri bernama Solikhah. Dan bungsunya baru berumur 1 tahun sudah meninggal ketika ayahnya masih hidup.
Putri Malokhah menjadi janda sampai meninggal dalam usia 39 tahun sepeninggalan putri Malokhah penguasa Kadipaten Lasem kemudian dirangkap oleh Dhang Puhawang Pangeran. Santipuspa, yang dibantu oleh adiknya bernama Pangeran. Santiyago dan disuruh menempati Keraton Kadipaten di Colegawan…(Sic) Kitab “Babad” Badrasanti menjelaskan penguasa Kadipaten Lasem hingga dipegang oleh Bupati Sura Adimenggala III yang diangkat oleh VOC dari Semarang.
Sampai disini berita tentang sejarah Lasem bisa diurutkan berdasarkan sumber tertulis, kemudian bagaimana kaitannya dengan Rembang?

Diposkan oleh Ali Shodiqin

PANTAI GEDONG

gedong

Banyak orang suka pergi ke pantai. Tak jarang orang rela menempuh perjalanan jauh untuk mengunjungi lokasi-lokasi pantai yang termasyur, seperti pantai Kuta, Parangtritis, Pangandaran dan sebagainya. Setidaknya ada tiga hal yang kita temukan di pantai : laut luas dengan dengan gulungan ombak, pasir dan matahari (sunrise/sunset). Jika ketiga komponen tadi yang kita inginkan, maka kita tak perlu pergi jauh-jauh, cukup di seputar Rembang saja Anda sudah menemukannya. Sebutlah Pantai Taman Kartini di Rembang, Pantai Tasikharjo di Kaliori, Pantai Binangun dan Pantai Suko di kawasan BBS (Bonang-Binangun-Sluke). Satu lagi yang ingin penulis tambahkan, yaitu Pantai Gedong.

Pantai Gedong atau Pantai Caruban terletak di Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem. Istilah ‘gedong’ dalam bahasa Jawa merujuk pada bangunan kuno. Mungkin kata ‘gedong’ merujuk pada keberadaan situs tua di Dukuh Caruban, sebuah reruntuhan candi yang dikenal dengan Candi Samodrawela. Di situ pula terdapat makam Nyi Ageng Maloka, seorang  penguasa Lasem di zaman kerajaan tempo dulu

Akses menuju Pantai Gedong cukup mudah. Ia terletak kira-kira 1,5 km dari jalan pantura. Masuk dari sisi barat SMP 1 Lasem kita akan melintasi perkampungan dan areal tambak garam sebelum sampai pada hamparan pasir putih dengan tetumbuhan semak khas pantai. Selain pasir putih, ada satu lagi keunggulan pantai ini, relatif bersih bila dibanding dengan pantai lain di kawasan Rembang.

Ramai Saat Liburan

Minggu itu hari terakhir liburan sekolah. Banyak orang berkunjung terutama warga Lasem dan sekitarnya. Selain orang tua dan anak-anak, sejumlah muda-mudi juga tampak menikmati aktifitas di pantai. Ada yang berenang, ada pula yang menendang-nendang riak ombak atau berjalan-jalan menapaki kelembutan pasir pantai.

Suasana itu dimanfaatkan sejumlah pedagang makanan untuk berniaga, dari penjual nasi uduk hingga pedagang penthol bakso. Tak hanya itu, Rais (39), seorang warga setempat, membuka jasa penyewaan ban pelampung. Dengan tarif dua ribu rupiah per pelampung baik ukuran kecil maupun besar, ia mengaku bisa mengantongi uang hinga 50-60 ribu sehari. Ia menggelar peralatan sewanya hanya selama liburan sekolah.

Pada umumnya tujuan orang pergi ke pantai adalah untuk rekreasi, melepas rutinitas sehari-hari. Ibaratnya rekreasi itu me-recharge pikiran agar bugar kembali. Tetapi ada yang lebih spesifik, pergi ke pantai untuk  terapi penyembuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Dwi Jarwono (42), seorang PNS yang tinggal di Gedongmulyo. Ia mengaku hampir setiap hari berkunjung ke Pantai Gedong bersama anak dan istrinya, “kalo tidak pagi ya sore hari, wong dekat saja dari rumah”. Ia mengungkapkan, berendam air laut adalah untuk terapi penyembuhan anak balitanya yang menderita asma. “Alhamdulillah ada perubahan, kalo dulu sering kambuh sekarang tidak lagi. Anak saya pun jarang terkena pilek”, tuturnya.

Bagi penyuka olah raga bersepeda, Pantai Gedong asyik juga untuk dijelajahi saat air laut surut, lantaran garis pantainya yang cukup panjang (sekitar 2 km), membentang dari ujung muara Kali Kiringan dari arah barat hingga Kali Babagan di ujung timur. Di pantai ini juga banyak diketemukan kerang, sejenis binatang laut bercangkang yang dagingnya enak untuk disantap. Tampak pula sejumlah orang tengah sibuk mencari kerang dengan mengkais-kaiskan kaki ke dasar pantai yang berpasir.

Namun ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian untuk Pantai Gedong, selain abrasi (melanda sebagian besar pantai di Rembang), keberadaaan pohon peneduh juga minim. Alangkah ademnya jika sejumlah pohon semisal ketapang tumbuh di sepanjang pantai ini sehingga siang haripun kita bisa bersantai menikmati panorama laut.

Satu lagi yang patut disayangkan, kepedulian masyarakat pada kebersihan masih minim (kayaknya ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita). Seperti pemandangan yang penulis saksikan, beberapa pengunjung meninggalkan sampah plastik begitu saja. Andai mereka dengan suka rela membawa pulang sampah mereka sendiri, tentu pantai ini lebih terjaga kebersihannya. Kapan ya, kita menjadi lebih ramah terhadap lingkungan dengan menjaga kebersihan saat berada di tempat manapun??